Out

Out (Bebas)
Horeeeeeeeee…akhirnya buku pesananku datang!!!
Setelah beberapa hari aku panas dingin menunggu kedatangan buku berjudul Out (Bebas), akhirnya buku tersebut datang juga. Buku karangan Natsuo Kirino ini istimewa karena secara khusus kupesan untuk mengganti buku temanku yang rusak waktu kupinjam.
Ceritanya gini…
Suatu hari, waktu pulang kerja, hujan derassss bgt. Aku lupa kalau di dalam tas, ada buku kesayangan teman yang sedang kupinjam. Saat itu perhatianku hanya terarah pada jalanan yang terendam banjir, karena takut kalau terperosok ke dalam lubang yang tertutup air.
Sampai rumah, aku keluarkan semua isi tas.
Deng…deng…deng, seisi tasku basah kuyup. Satu hal yang membuatku langsung berteriak histeris, karena melihat buku setebal 500-an halaman tersebut udah lepek selepek-lepeknya. Halaman-halamannya lengket satu sama lain. Duh!!!
Aku jemur buku tersebut, tapi ternyata hasilnya tidak cukup menggembirakan. Buku tersebut tidak bisa kembali ke kondisi semula. Selain keriting, kusut, jilidan covernya juga lepas.
Akhirnya, aku berburu novel itu di internet. Kutelusuri satu demi satu toko buku online, tak kunjung membuahkan hasil. Sambil komat-kamit doa, aku telusuri situs toko buku online milik penerbit buku itu dan ternyata stoknya kosong. Waduhhh!!! Piye iki??
Aku bertekad harus menemukan toko buku yang menjual novel terbitan 2007 itu. Setelah melakukan pencarian ke sana-sini, tiba-tiba mataku menumbuk sebuah halaman di salah satu blog yang menjual buku secara online. Wowwww…..aku melihat novel itu dipajang di blog tersebut. Di situ tercantum no HP yang bisa dihubungi. Awalnya agak ragu, mengingat akhir-akhir ini banyak penipuan jual-beli secara online. Aku cermati baik-baik situs tersebut. Di situ terpampang pertanyaan-pertanyaan dari calon pembeli.
Hmmm…kayanya tidak ada yg mencurigakan, lagian aku memang butuh banget novel itu. Akhirnya aku beranikan diri mengirimkan sms ke no yang tercantum di situs. Wahhhh senangnya hatiku waktu si penjual buku membalas smsku dan mengatakan kalau buku tersebut ada. Namun, syarat pembelian, minimal 2 buah buku. Ya sudahlah gpp, yang penting bukunya ada. Aku pun asal comot buku untuk memenuhi syarat pembelian. Setelah aku melakukan transaksi pembayaran, si penjual berjanji akan mengirimkan buku sore itu juga.
Masih dengan harap-harap cemas, aku menunggu kedatangan buku itu. 2 hari kemudian, buku tersebut sampai di tanganku. Dengan kegirangan kutimang-timang buku tersebut. Rasanya plongggg banget. Sekarang saatnya ‘mengaku dosa’ ke temenku dan memberikan buku pengganti itu.
Si ‘Item’

Alfa
Mungil, bulu hitam, kaki kurus, ekor lebat mekar seperti kalkun. Begitu ada suara agak keras dia langsung panik, ekornya dijepit di sela-sela kaki, lalu badannya muter-muter seperti gangsing. Penakut! Itulah kesan pertama yang aku tangkap ketika pertama kali melihat Alfa, anjing peliharaan keluarga pacarku.
Setelah beberapa waktu mengenal Alfa, aku mulai merasa dekat dengannya. Ternyata di balik sifat penakutnya, ada beberapa tingkah konyolnya yang menggelikan. Anjing campuran pomerian ini senang sekali melihat ransel merah. Tentunya bukan sembarang ransel merah. Ransel favoritnya adalah ransel yang sering dipakai untuk menggendongnya saat jalan-jalan naik motor. Kalau melihat seseorang menggendong ransel merah, si ‘item’ akan girang bukan kepalang, ekor dikibas-kibaskan kencang, muka ‘mupeng’, lalu lompat-lompat minta gendong.
Suatu hari Alfa dibawa ke dokter hewan di dekat rumah. Pacarku menggendongnya dengan ransel merah sambil mengendarai motor. Sepanjang perjalanan Alfa duduk anteng di dalam ransel dengan muka sumringah.
—————————————————————————————————————-
Daaaggggggg….aku pergi ya….
Ini adalah salah satu kalimat ampuh yang bisa membuat Alfa kegirangan. Bahkan cuma mendengar seruan yuk! pun, si item akan langsung lari dan minta gendong. Dipikirnya dia mau diajak jalan-jalan!
Alfa juga akan girang bukan kepalang ketika mendengar seseorang membuka laci tempat menyimpan sisir, gunting, bedak, hair dryer, dan rantainya. Dia akan langsung lari menghampiri dengan ekor mengibas-ibas kencang. Begitu perlengkapannya dikeluarkan dari laci, Alfa langsung lompat-lompat ge-er, karena ada 3 kemungkinan, yaitu dia akan dimandikan, disisiri, atau diajak jalan-jalan.
Kelucuannya ini memikat hati seisi rumah. Jadilah si Alfa raja di rumah. Digendong-gendong, dielus-elus, dipangku. Alhasil jadilah dia anjing yang manja. Kalau seisi rumah sedang nonton TV, Alfa pun ikut nimbrung. Kedua kaki depannya akan naik ke paha orang yang dia incar, lalu toel-toel minta pangku. Ketika dia merasa kurang mendapat perhatian karena seisi rumah sedang sibuk, dia pun akan cari perhatian dengan minta digendong atau dipangku.
Walaupun suka digendong, ada pengecualian, yakni Alfa tidak suka digendong anak-anak. Pernah waktu itu ada 3 orang anak kecil sedang bermain di rumah. Mereka mengajak Alfa bermain, digendong kesana-kemari. Muka Alfa cemberut, mungkin dia bete ya?! Ha..ha..ha..ha..ha. Sejak itu, setiap kali ada anak kecil datang ke rumah, Alfa langsung ngumpet di kolong kursi. Kalau dipanggil, pura-pura tidak mendengar.
Selain tidak suka dengan anak-anak, Alfa juga tidak suka difoto. Setiap kali kita ingin memotretnya, dia langsung memalingkan muka. Sok jual mahal!
Jika bagi kita, tahun baru dan lebaran adalah momen yang menyenangkan, hal itu tidak berlaku bagi Alfa, karena itu adalah saat-saat dia diteror suara petasan. Semalaman dia akan gelisah, ekor dijepit di antara kaki, lari ke lantai atas, balik lagi ke lantai bawah, muter-muter, sembunyi di kolong meja, garuk-garuk kaki orang minta digendong, telinganya tegak seolah siaga sambil sesekali menelengkan kepala mencari sumber bunyi. Paginya, dia akan lupa dengan suara teror petasan dan kembali bermain bola dengan ceria.
Salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu Alfa adalah saat tutup toko. Dia akan siaga di dekat pintu yang menghubungkan rumah dengan toko. Begitu lampu mulai dipadamkan dan pintu-pintu mulai ditutup, dia akan lari ke depan dengan gembira. Alasan kenapa Alfa gembira adalah karena dia ingin duduk nangkring di atas motor sambil melihat orang yang lalu lalang di jalan. Olalaaaa AlfaAlfa..
Dari memerhatikan tingkah laku Alfa, aku jadi tahu kalau binatang itu juga memiliki emosi, bisa senang, sedih, cemas, bete, bahkan takut. So, kasihan ya kalau sampai ada orang tega menyiksa binatang?!
Makanan ‘Aneh’
“Apaan tuh, Rie?,” tanya seorang teman sambil mengerutkan dahi, saat kami sedang berbelanja di sebuah supermarket.
“Genjer buat tumis,” jawabku singkat.
Lain waktu, kami kembali berbelanja bersama. Kali ini aku mengambil kecipir di deretan sayur-sayuran.
“Itu dimasak apa, Rie?” tanyanya lagi.
“Kecipir mau dimasak pecel. Enak lho, murah lagi!” jawabku udah kaya berpromosi.
Ketika melihatku meraih daun kucai, lagi-lagi dia kepo.
“Emang enak apa, Rie?”
“Ini makanya mau dicoba, hehehe…” sahutku asal.
Satu lagi makanan yang menurut teman-temanku rasanya aneh plus uaseeem (saking asemnya), tapi justru aku menikmatinya adalah buah kemang.
Ya…memang aku suka mencoba-coba makanan yang belum pernah kumakan, walaupun kadang bagi orang lain itu ‘aneh’.
Intinya sih biar tahu rasanya, ngga penasaran. Jadi ketika ada orang tanya, udah makan ini? udah makan itu? aku bisa ikutan nimbrung kasih testimoni soal rasanya, bukan hanya bengong menjadi pendengar. Selain itu biar ngga bosan dengan menu yang itu-itu saja.
Tapi, dari sekian banyak bahan makanan yang kucoba, aku belum bisa ‘berdamai’ dengan rasa kecombrang/honje.
Awalnya aku penasaran ingin tahu seperti apa rasa kecombrang. Alhasil, aku membeli beberapa batang kecombrang. Dari informasi yang aku dapat di internet, katanya enak dibuat sambal. Akhirnya aku coba membuat sambal dengan tambahan kecombrang.
Hueekkkk…..aromanya terlalu harum dan terasa agak janggal di lidahku.
Hmmm…mungkin karena belum terbiasa saja, pikirku saat itu.
Belum menyerah, aku putuskan untuk memasaknya menjadi campuran pecel. Hueekkk….setali tiga uang, lidahku belum bisa menerima. Eitsss..bukan berarti aku kapok lho, kapan-kapan aku ingin mencobanya lagi.
Beruntungnya Aku
“Tahun baru kemarin, aku jalan-jalan sama temen,” cerita seorang teman di saat makan siang.
‘Wah, enak banget….aku ngga dibolehin lho keluar pas Tahun Baru,” timpal seorang teman dengan nada setengah iri.
Teman yang lain juga cerita kalau orang tuanya overprotective. Dia dilarang jalan-jalan keluar kota bersama teman-temannya. Bahkan sekadar menginap di rumah teman juga tidak diizinkan. Orang tuanya pun rajin menelepon untuk menanyakan keberadaannya.
Ada lagi yang lebih parah. Seorang teman mengaku kemana-mana harus dikawal ‘bodyguard’. Tentunya bukan bodyguard berbadan kekar layaknya di film-film atau bodyguard penagih utang. Bodyguard-nya adalah tukang ojek langganan. Bodyguard-nya ini selalu mengantar dan menjemputnya sejak sekolah hingga sekarang sudah bekerja. Walaupun temanku menyetir mobil sendiri, bodyguard-nya akan tetap setia mengawalnya dari belakang. Waduh…waduhhh….
Aku yang mendengar percakapan itu, geli sekaligus setengah tidak percaya. Sebegitunya kah? Selama ini aku pikir, bepergian keluar kota bersama teman, bahkan sendirian adalah hal yang sangat lumrah. Tapi, ternyata aku keliru. Banyak temanku yang harus susah payah membohongi orang tuanya demi bisa jalan-jalan dengan teman.
Hmm…ternyata tinggal terpisah dari orangtua, banyak keuntungannya juga ya, hehehhee…bukan berarti mau bandel atau gimana. Sejak masuk SMA, aku masuk sekolah berasrama, jadi harus berpisah dengan orang tua. Awalnya, terasa berat, karena dulu aku termasuk manja, makan pun harus disuapin ibuku. Begitu tinggal di asrama, aku belajar melakukan segala sesuatunya sendiri. Bersih-bersih sendiri, nyuci, setrika, semuanya harus kulakukan sendiri. Udah kaya lagunya Caca Handika aja, hehehe.
Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di Yogyakarta dan tinggal di kos, otomatis aku semakin ‘dipaksa’ untuk menjadi pribadi yang mandiri. Selesai kuliah, aku bekerja di Jakarta. Setahun 2x aku pulang kampung.
Setelah mendengar cerita dari teman-temanku, aku baru sadar betapa beruntungnya aku, karena bisa leluasa pergi kemana saja dengan siapa saja. Kalau cuma pergi yang dekat-dekat, seputaran Jakarta, aku tidak perlu laporan. Kalau perginya udah keluar kota, biasanya aku kasih kabar. Orangtuaku memberi kepercayaan penuh. Pastinya aku tidak boleh menyalahgunakan kepercayaan itu. Semua perbuatanku harus bisa kupertanggungjawabkan.
Satu lagi yang bisa kumasukkan ke dalam daftar keberuntunganku: aku mendapat kepercayaan penuh dari orangtuaku sehingga aku tidak perlu takut diawasi secara berlebihan.
Bahagia adalah…..
Bahagia adalah……
- Waktu kebangun, trus lihat jam, ternyata masih ada beberapa jam waktu untuk tidur. Langsung narik selimut, lezzzzzz bablas ke alam mimpi lagi.
- Pulang kerja, udah ngga punya tanggungan harus nyuci atau setrika. Asyikkk…bisa nyantai.
- Kalau udah hari Jumat, bawaannya seneng, soalnya mau libur & ketemu pacar.
- Minum teh panas sambil santai baca buku & kerjaan rumah sudah beres. Rasanya damai.
- Pas jalan2, lihat baju atau sepatu bagus, trus dibeliin.
- Masakanku ludes dimakan orang-orang tersayang. Langsung semangat pengen masak lagi.
- Malam-malam waktu mau tidur, trus hujan deres. Senengggg dengerin hujan sambil liyer-liyer.
- Berhasil beresin kerjaan tepat waktu.
- Pulang kampung, di rumah sudah disiapin macam-macam makanan.
- Bangun tidur lihat rambut ngga bandel alias mekar sana-sini.
- Bisa bangun tidur lebih siang dari biasanya. Bangun tidur, badan rasanya seger.
- Pas laper, eh ada yg nraktir (bakso, kepiting, tom yam, sate, bebek goreng).
- Dengerin lagu sambil nyanyi keras-keras, trus suaranya bisa pas dengan suara penyanyinya. Hihihi..norak.
- Waktu ulang tahun dapat surprise.
- Waktu cuti, kumpul-kumpul bareng temen2 , ketawa-ketiwi, ngobrol sepuasnya.
- Jalan-jalan tanpa kena macet.
Ternyata sumber rasa bahagia tidak harus hal-hal yang bersifat material. Hal-hal sederhana pun bisa membuat bahagia. Aku percaya bahwa kebahagiaan itu bisa kita ciptakan sendiri. Kuncinya adalah rasa syukur, eheemmm…mendadak bijak.
Lexie
Badannya besar, berbulu lebat dengan lidah terjulur panjang. Kalau kaki kita keinjek, owwwwwwwwwwww sakittttttt……Melihat perawakannya yang ‘menyeramkan’ aku ‘ngga berani dekat-dekat dengan Lexie. Bisa-bisa aku jatuh terjengkang kalau ditubruk. Biasanya kalau Lexie masuk rumah, aku langsung ngibrit lari menjauh.
Aku belum pernah ‘merelakan’ diri mengajak si Golden Retriever ini bermain. Boro-boro mengajaknya main, mengelus-elusnya pun dengan rasa takut. Perawakannya yang besar–walaupun harus kuakui, wajahnya jenaka kekanak-kanakan– membuat banyak orang takut dekat-dekat dengannya.
Kandangnya di halaman belakang. Seringkali dia main air di dalam ember besar. Katanya sih, dia termasuk jenis anjing yang suka main air. Lucu sihhh…..tapi tetep saja takut! Kadang dia asyik menggigiti tulang-tulang sapi ukuran besar, kiriman khusus dari penjual bakso yang suka lewat. Beberapa kali sehari, Alfa-anjing campuran pomerian- ke halaman belakang dan mengajak Lexie bermain ‘perang-perangan’. Begitu hujan turun, biasanya Alfa menggonggong minta masuk. Sebaliknya Lexie malah hujan-hujanan. Ia juga suka sekali main bola. Begitu bola dilempar, ia akan berebut dengan Alfa untuk menangkap bola.
Hmmm…..tapi itu semua tinggal kenangan….sekarang udah ngga ada lagi si ‘raksasa’ itu. Dia sudah diadopsi orang. Pertimbangannya adalah karena Lexie membutuhkan halaman luas supaya dia bisa lebih leluasa bermain dan merasa senang. Ternyata sedih juga kalau ngga ada dia. Apalagi waktu melihat Putro sedih karena merasa kehilangan Lexie. Wajar sih kalau Putro sedih, karena dia sering mengajak Lexie bermain, mandiin, kasih makan. Trus waktu Lexie dijemput ‘orang tua barunya’, Putro sedang tidak di rumah, jadi tidak sempat lihat Lexie untuk terakhir kali.
Tapi paling sedih pas lihat Alfa nyari-nyari Lexie. Alfa juga tidak melihat waktu Lexie pergi. Begitu dia ke halaman belakang, kandang Lexie udah kosong. Dengan panik, dia cari-cari sahabatnya. Berkali-kali dia cek kandang Lexie. Dia cium-cium halaman belakang. Kayanya Alfa ngga percaya kalau Lexie udah ngga di situ.
Yahhh…semoga Lexie senang dan betah di rumah barunya. Amin.
Kala si Mimi Ngambek

si mimi

merahnya si mimi
Udah 2 tahun lebih, Mimi–motor mio merahku–setia menemaniku pergi pulang kerja. Dulu awal mimi dikirim dari rumah Klaten, aku pernah bertekad akan sering-sering memanjakan mimi dengan memandikannya, paling ngga seminggu sekali. Ternyata janjiku palsu, hihihihi……maaf ya Mi, boro-boro mandi seminggu sekali, sebulan sekali juga udah bersyukur banget.
Nah, buat menebus kesalahanku, si mimi aku cat merah seluruh body-nya (ini mah ambisi pribadi bukan permintaan maaf, hihihi). Alhasil mimi jadi tambah cantik rupawan. Ibarat anak gadis, mimi begitu menawan. Hasyaahhh :p. Saking merahnya, ada teman yang komentar ‘ini motor habis dicabein ya, kok merah bener?” hahaha….
Walaupun jarang mandi, tapi mimi rutin ke bengkel buat diservis biar ngga rewel. Pernah sih mimi ngadat, mogok ngga mau jalan. Tapi itu bukan karena kesalahannya, tapi gara-gara indikator bensin yang ngaco.
Jadi ceritanya gini……..
Malam itu………….. (biar agak dramatis), aku dan pacarku baru pulang jalan-jalan dari Bogor (suit…suittt…..)
Di perjalanan tiba-tiba pacarku menepi.
“Lho kenapa, kok minggir?” tanyaku.
“Iya ngga ada tenaga,” jawab pacarku.
“Hah? siapa yang ngga ada tenaga, kamu apa mimi?” seruku kaget, karena pacarku baru aja nghabisin mi hotplate, tom yam plus nasi, mana mungkin ga ada tenaga.
“Motornya lah!”
“Hahahahahaha………..aku pikir kamu!”
Setelah distarter dengan starter kaki beberapa kali, akhirnya mimi nyala.
“Ayo buruan naik, nanti keburu mati lagi lho!” seru pacarku.
“Oke. Hop!” aku langsung lompat ke atas boncengan.
Baru jalan beberapa meter, Mimi rewel lagi. Starter lagi, jalan lagi.
Begitu berkali-kali. Ngos-ngosan, kaya dikejar maling. Sampai akhirnya mimi benar-benar ngga mau distarter.
“Jangan-jangan bensinnya ya, tapi di indikatornya masih penuh tuh,” kata pacarku.
Kami pun memutuskan membuka tutup tangki bensin dan mencucukkan sedotan bekas ke dalamnya. Ternyata benaarrrrrrr…..bensinnya habis. Ketipu indikator.
Waduh! alamat ngedorong nih.
Alhasil, sambil menenteng helm, aku terseok-seok mengikuti pacarku yang berjalan cepat sambil menuntun motor.
“Ayo, ada pom bensin deket sini kok!” kata pacarku menyemangati.
Huhuhuhuhuhuhu…mana nih pom bensinnya, katanya deket.
Setelah berjalan beberapa menit dan menyeberang jalan, kami melihat penampakan SPBU.
Wuihhhhh…..baru kali ini rasanya bahagia banget lihat SPBU, hihihihi….
Setelah ‘minum’, Mimi langsung ngacirrrr…..
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kejadian mimi ngambek untuk kedua kalinya terjadi waktu aku pulang kerja sebulan yang lalu (duh mimi, lagi-lagi rewel kok malem!)
Waktu itu hujan mengguyur kawasan Cilandak dan sekitarnya ….di perempatan dekat Departemen Pertanian, tampaklah sesosok gadis mengendarai motor merah (wuihhhhh) dan gadis itu adalah aku, hihihihi…
Di lampu merah, tiba-tiba pett…mimi mati.
Aku starter beberapa kali, tetap tidak mau nyala. Aku pinggirin si mimi. Di saat itu aku tiba-tiba begitu merindukan polisi. Bukan tanpa sebab aku menginginkan kehadiran sosok polisi. Karena saat itu yang pertama terlintas di benakku adalah mencari bala bantuan untuk ‘menjinakkan’ mimi. Setidaknya aku berharap, polisi (walaupun mungkin terpaksa) akan membantuku, karena ‘panggilan tugas’. Wuidihhh….
Sayangnya, tak ada seorang pun polisi yang terlihat. Heran, padahal biasanya pada eksis di perempatan (ngatur lalu lintas, maksudnya).
Wah siapa nih yang bisa aku mintai tolong. Kalau telepon pacar juga ga banyak membantu, karena dia nun jauh di Cibinong, kasihan kalau malam-malam nyamperin aku. Mau telepon teman yang kira-kira bisa diandalkan, juga ga tega ngrepoti malam-malam.
Di tengah kegalauan (halah), aku clingak-clinguk mencari seseorang yang kira-kira bisa nolong. Akhirnya kuberanikan diri menghampiri mas-mas di belakangku yang sedang boncengan dengan seorang wanita.
“Mas, boleh minta tolong ngga? motor saya mendadak mati, ngga mau distarter,” tanyaku (mungkin dengan wajah memelas).
Dengan enggan, si mas-mas turun dari motornya. Dia starter mimi beberapa kali dan hasilnyaaaa?!!!!
“Ngga bisa ini mba, businya paling. Bawa ke bengkel aja,” ujar si mas sambil balik badan kembali ke motornya.
“Oh ya udah mas, makasih. Maaf ngrepotin,” jawabku.
Haduh, malam-malam gini cari bengkel dimana ya? Di tengah rintik hujan (untung hujannya udah mulai reda), kutuntun si mimi. Perut yang tadinya laper banget, mendadak ngga laper sama sekali.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Mataku langsung terbelalak waktu melihat ada bengkel yang pintunya masih kebuka 1/4. Buru-buru kuarahkan mimi ke bengkel itu.
“Mas..mas….belum tutup kan ya? Motor saya mati, mau minta tolong dicek,” seruku tak bisa menyembunyikan kegembiraan.
Untung saja orang bengkel itu mau mengecek si mimi, dibantu dengan penerangan senter dari istrinya.
5 menit…10 menit…15 menit…20 menit…akhirnya setelah hampir 1/2 jam, mimi nyala lagi.
“Ini bukan businya mba, tapi karena kompresinya ilang…..blablablablablaa….ngunci trus jadinya mati,” orang bengkel mencoba menjelaskan penyebab ‘ngambeknya’ si mimi.
“Oh gitu ya Pak?” aku manggut-manggut bingung mendengar penjelasannya.
“Udah saya bersihkan, besok dibawa lagi aja ke bengkel, bilang setelannya minta sedikit diborosin biar ngga mati-mati. Motor matic emang suka gitu,” lanjut orang bengkel.
“Oh oke Pak ,” jawabku, padahal ngga mudheng.
Ngenggggggg…………aku pun meluncur lagi bersama mimi, meneruskan perjalanan ke kos.
Besok paginya aku ke bengkel langganan. Aku ceritain kejadian semalem.
“Oh itu ngempos, kotorannya ngumpul. Kalau mau diborosin setelannya bisa, tapi jangan sekarang, listriknya lagi mati. Kalau semalem udah dibersihin, biasanya ngga akan rewel-rewel lagi dalam waktu lama,” kata orang bengkel.
Oke..oke….rencananya sih ntar pas barengan servis, aku mau minta tolong cek lagi. Buat mastiin aja kalau segala sesuatunya baik-baik aja. Mimi…mimi…jangan ngambek-ngambek lagi dong…
Nikmatnya Gurame Saus Mangga

Tidak berlebihan rasanya kalau daerah Margonda Raya kita sebut sebagai salah satu surga kulinernya Depok. Sepanjang jalan berderet tempat makan-tempat makan yang akan memanjakan lidah para pencinta kuliner. Mau jajanan lokal seperti soto, sate, mi, bebek, masakan sunda atau mau masakan yang kebule-bulean seperti steak, BBQ, burger semua ada. Belum lagi jajanan-jajanan ‘iseng’ macam serabi, bakso, mi ayam, komplet ada di Margonda.
Saking banyaknya pilihan tempat makan, kadang sampai bingung mau makan apa dan dimana. Seperti Jumat (9/11) kemarin, habis jalan-jalan sama pacar di Margo City, bingung mau makan dimana. Padahal kalau dipikir-pikir, di mall Margo City sebenarnya juga banyak pilihan tempat makan. Awalnya mau makan di rumah makan ayam tulang lunak Hayam Wuruk. Begitu sampai di depan rumah makan itu, tiba-tiba ragu, makan ayam lagi, ayam lagi, bosen.
Akhirnya kendaraan melaju ke Jln Tole Iskandar. Pilihan jatuh ke rumah makan Sunda, Goeboek Bamboe. Dari ruas jalan Tole Iskandar, tempat makan ini tidak terlalu mencolok perhatian karena posisinya lebih rendah dibanding jalanan dan persis di tikungan. Kedatangan kami disambut angsa yang berkeliaran di halaman rumah makan.
Kami harus menuruni undak-undakan untuk mencapai saung, harus hati-hati supaya tidak kepeleset karena hujan baru saja mengguyur kota Depok. Ketika menuruni tangga, tampaklah saung-saung di antara pohon bambu. Ada yang berukuran kecil dan ada juga yang besar. Di setiap meja tersedia lilin dan kentongan. Fungsi kentongan itu untuk memanggil pramusaji. Di tempat ini juga tersedia ayunan, jadi sambil menunggu pesanan, anak-anak bisa bermain ayunan. Alunan musik sunda menemani para pengunjung yang sedang bersantap.
Menurut pramusaji yang melayani kami, salah satu menu spesial di rumah makan ini adalah gurame saus mangga (Rp 30.000). Akhirnya pilihan kami jatuh pada gurame saus mangga, tumis kangkung (Rp 10.000), dan belut penyet. Sayangnya, malam itu belut sedang kosong. Sebagai penggantinya, kami pilih tempe penyet (Rp 8.000). Untuk minum, kami pilih yang murah meriah, teh tawar anget (Rp 1.000).
Setelah menunggu sekitar 15 menit, pesanan pun datang. Gurame goreng tampil dalam balutan tepung dan siraman sambal mangga. Cukup menggoda tampilannya. Dua ekor udang ukuran sedang tampak menyembul di antaranya hijaunya tumis kangkung.
Tidak salah jika gurame goreng saus mangga ini menjadi favorit di Goeboek Bamboe, karena citarasanya enak. Rasa gurame goreng yang gurih berpadu serasi dengan semburat rasa asam pedas saus mangga. Tempe penyet rasanya juga tidak mengecewakan.
Sebagai oleh-oleh, kami memesan nasi goreng pete dan jus sirsak. Secara keseluruhan kami puas dengan suasana, rasa masakan, serta harga yang bersahabat di Goeboek Bamboe. Kisaran harga makanan di tempat ini Rp 8.000-Rp42.000. Minuman paling mahal dibanderol seharga Rp 14.000.
Goeboek Bamboe
Jln Tole Iskandar no.32 Depok
Telp 021-7782 9235
Bakso Kaget
Pulang dari RS Panti Rini habis jagain babe, perut keroncongan. Awalnya mau mengisi perut di Laris, warung langganan jaman kuliah di Yogya dulu, sayangnya tutup. Akhirnya mampir di warung bakso di daerah Nologaten, namanya Depot Ratu Sari. Waktu masih kuliah (hingga akhir tahun 2008), setauku warung ini belum ada. Jadi ini kunjungan perdanaku.
Menu yang menjadi andalan di warung ini adalah bakso kaget dan bakso klenger. Menu yang lain sih standar, misalnya bakso urat, bakso rusuk, mi ayam, dan mi ayam bakso.
Hmmm….enaknya makan bakso apa ya? Jadi bingung sendiri. Penasaran dengan menu ‘bakso kaget’ akhirnya aku tanya ke salah seorang pramusaji. Menurut si mas pramusaji, bakso kaget itu adalah bakso yang dilengkapi dengan sumsum. Kalau bakso klenger adalah bakso dengan ukuran besar.
Aku manggut-manggut. Dalam benakku terbayang bakso dengan potongan sumsum yang kenyil-kenyil. Akhirnya aku pesan seporsi bakso kaget.
Ketika pramusaji menyajikan bakso ke hadapanku, aku kaget bukan main. Karena mangkok bakso itu berukuran jumbo, ukurannya kira-kira 3x ukuran mangkok standar. Selain berisi bakso dan pelengkapnya, di dalam mangkok besar tersebut juga terdapat sepotong tulang sumsum berukuran besar. Benar-benar bikin wowwww!!! Pantes namanya bakso kaget, karena memang bikin kaget si pemesan. Ini kayanya kalau tulang sumsumnya buat nggebuk maling bisa klenger. Hehehehehe…
“Hahahahaha….ini mah kamu saingan ma Lexie (nama anjing pacarku),” komentar pacarku waktu melihat bakso itu tersaji di depanku.
Wah…apa boleh buat, sudah terlanjur pesan, aku harus menghabiskannya. Hmmm….rasanya sih lumayan. Seru juga mretelin sumsum-sumsum yang menempel di tulang sambil sesekali menyeruput sumsum dengan sedotan. Segelas es cendol menuntaskan acara santap bakso siang itu. Glek glek…segarrrrrrr….
Nah, buat yang penasaran ingin mencoba bakso kaget, bisa langsung datang ke Depot Ratu Sari, di Jl Wahid Hasyim no 296 Nologaten, Yogyakarta. Harga makanan dan minumannya standar kok. Untuk seporsi bakso kaget, cukup merogoh kocek sebesar Rp 18.000.
Ini dia penampakan bakso kaget yang sukses bikin aku njondhil alias kaget. Bandingkan mangkok bakso kaget dengan mangkok di dekatnya.

Bakso kaget
