0

Kenalan dengan Buah Kemang

Posted by fransiska arie on Apr 27, 2012 in all about kuliner
buah kemang

buah kemang

Sudah pernah makan buah kemang? saya baru sekali mencicipinya. Dulu saya tidak tahu kalau ada buah yang namanya kemang. Saya cuma tahu kalau kemang itu nama salah satu tempat di Jakarta. Perkenalan saya dengan buah kemang ini terjadi secara tidak sengaja. Waktu itu saya sedang berjalan menyusuri deretan rak buah-buahan di sebuah supermarket (tempat favorit kalau lagi ke supermarket). Persis di sebelah keranjang kedondong, saya melihat buah asing menyerupai kedondong matang berukuran jumbo. Spontan saya bertanya kepada pramuniaga yang sedang menimbang buah.

“Ini buah apa mba?”

“Buah kemang”

“Rasanya apa?”

“Asem”

Wah setelah mendengar jawaban itu, tanpa ragu, saya masukkan buah kemang dalam keranjang belanjaan. Maklum, saya penggemar buah-buahan bercita rasa asam.

Begitu sampai di kantor, saya tunjukkan ke teman-teman buah ‘aneh’ tersebut. Si bos yang paling bersemangat.

“Potong Rie…potong. Hmmm….wanginya eksotis, kaya jambu mete”

Potongan pertama langsung dicicip oleh si bos

“Waaaaaaaaaaaaaaaa……………………………aseemmmmmmmmm,” teriak si bos, saat mencecap si buah kemang.

Teriakan bos ini kontan mengurungkan niat temen-temen yang juga ingin mencicipi.

Alhasil, saya menjadi penikmat tunggal. Nyam..nyam…nyam, asam segar, pas banget dicocol dengan garam :D

Setengah buah kemang saya bawa pulang untuk dinikmati di kos.

Sesampainya di kos, tiba-tiba tercetus ide untuk membuat sambal dari buah kemang. Kalau mangga dan kedondong enak dibikin sambal, kemungkinan kemang juga enak.

Ternyata bener lho, ketika dibuat sambal, walaupun penampakannya kurang menarik (benyek2 gitu), tapi rasanya enak. Pedas asam gitu. Penasaran? Cobain deh!

Iseng-iseng saya googling tentang buah ini. Nemu info dari Wikipedia kalau kemang adalah pohon buah sejenis mangga dengan bau yang harum menusuk dan rasa masam manis. Buah ini biasa dimakan segar setelah masak atau dijadikan campuran es dan sari buah. Buahnya yang muda bisa dibuat rujak. Konon bijinya dalam keadaan segar diiris-iris lalu dibumbui kecap, dimakan (busyettt deh). Daunnya yang masih muda (kuncup) dijadikan lalapan….hmm kaya apa rasanya ya? Jadi penasaran pengen nyoba.

Katanya sih…kemang menyebar secara alami di Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya, dan banyak dibudidayakan di daerah dekat Bogor. Perasaan setiap minggu saya ke Bogor, tapi kok belum pernah nemu buah ini ya? :D

sambal kemang

sambal kemang


Tags: , , , , , , , , ,

 
0

2012, Media Sosial Kian Menggurita

Posted by fransiska arie on Mar 25, 2012 in Uncategorized

Kehadiran situs jejaring sosial memberi warna tersendiri bagi kehidupan sosial kita. Beberapa tahun yang lalu, sebelum ada Facebook, Twitter, dkk, orang yang kurang bergaul di dunia nyata mungkin lebih suka mengurung diri di kamar, mendengarkan musik atau melakukan aktivitas lain yang tidak berhubungan dengan orang lain. Namun, ketika situs jejaring sosial hadir, orang yang kurang pergaulan (kuper) di dunia nyata, bisa menjadi begitu ‘gaul’ di media sosial. Walaupun masih mengurung diri di dalam kamar, ia tak lagi sendirian, ada banyak teman yang menemani di jagat maya.

Nah, itu baru salah satu contoh efek kehadiran media sosial dalam kehidupan kita. Media sosial juga membawa pengaruh dalam kehidupan politik Indonesia. Para tokoh politik tak mau ketinggalan, ramai-ramai membuat akun jejaring sosial. Salah seorang tokoh politik yang rajin nge-tweet adalah Menkominfo, Tifatul Sembiring. Sepertinya menjelang Pilkada DKI Jakarta 2012 ini, akan semakin banyak tokoh politik yang ‘bermain’ di media sosial. Tujuannya sudah bisa ditebak, untuk berkampanye. Ya, ini karena di media sosial, mereka dapat berkampanye secara gratis dan langsung bisa menyasar banyak orang.

Melalui media sosial, orang lebih bebas berekspresi, berbagi info, video, berbagi foto misalnya melalui Instagram, atau berbagi info lokasi keberadaannya melalui Foursquare. Media sosial juga terbukti bisa ‘mencetak’ artis-artis baru. Orang biasa mendadak menjadi artis ketika video amatirnya diunggah di Youtube. Misalnya Briptu Norman, Sinta-Jojo. Di tahun 2012 ini, diprediksi masih akan banyak artis baru yang dilahirkan Youtube.

Media sosial membuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk menjadi pewarta informasi (citizen journalism). Sebagai contoh, informasi tentang kecelakaan kereta api ArgoAnggrek-Senja Utama di Petarukan pertama kali disebarkan melalui Twitter, baru kemudian media meliput. Ini menunjukkan bahwa Twitter memiliki kekuatan luar biasa untuk menyebarkan informasi.

Sadar akan kecepatan media sosial dalam menyampaikan informasi, di tahun 2012 media, baik cetak, elektronik, maupun online akan semakin erat ‘merangkul’ situs jejaring sosial. Melalui media sosial, media menyebarkan sekaligus memantau informasi terkini, serta mengundang khalayak untuk berpartisipasi menyampaikan informasi atau aktif memberikan tanggapan tentang topik yang sedang hangat diperbincangkan.

Banjir ponsel pintar di tahun 2012 juga akan semakin mendongkrak popularitas situs jejaring sosial, karena ponsel pintar memudahkan orang untuk mengakses situs jejaring sosial di mana saja dan kapan saja. Alhasil media sosial akan kian menggurita di tahun 2012. Bahkan kemungkinan akan muncul situs-situs media sosial baru semacam Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain.

Jika di tahun 2011 jejaring Facebook berjaya, di tahun 2012 ini, kejayaannya akan dibayang-bayangi oleh Twitter. Sekali orang ‘berkicau’ di Twitter, pesan dapat langsung tersebar ke para pengikutnya. Dulu, siapa menyangka bahwa kicauan-kicauan 140 karakter tersebut bisa melahirkan penulis buku. Contoh nyata adalah Arief Poconggg yang membukukan kicauan-kicauannya dan mendadak populer, khususnya di kalangan anak muda.

Satu lagi kekuatan media sosial yang tak bisa dipandang sebelah mata, yakni kemampuannya untuk menjadi sarana promosi dan pemasaran yang efektif. Lihat saja, saat ini di media sosial banyak bertebaran penjual berbagai macam barang, seperti baju, tas, aksesori, dan gadget.

Tentunya kekuatan Twitter ini tidak akan disia-siakan oleh perusahaan atau suatu brand. Di tahun 2012, mereka akan lebih memberikan perhatian pada situs jejaring sosial, khususnya Twitter. Mereka akan memanfaatkan Twitter untuk branding, memasarkan produk, dan untuk berinteraksi dengan konsumen. Oleh karena itu, perusahaan atau pemilik brand harus mengelola akun media sosial mereka secara serius. Mereka dapat mempercayakan pengelolaan akun media sosial pada Social Agency Media yang memiliki kredibilitas di bidangnya, yakni Arwuda yang akan membantu menjaga dan meningkatkan brand image perusahaan dengan cara mengelola dan merawat akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Google+, YouTube, FourSquare dan blog.

Layanan Arwuda mencakup 3 bagian

1. Strategic Planning

Ini adalah proses yang sangat penting, sebelum perusahaan dan sebuah brand masuk secara aktif di dalam berbagai media sosial. Dalam tahap awal inilah ditentukan dan disepakati tujuan, segmentasi, “tone and manner” komunikasi, Key Performance Indicator (KPI) dan berbagai aspek lain.

2. Execution and Maintenance

Rencana yang strategis, kreatif dan rinci, perlu dilaksanakan dengan baik oleh tim yang kompeten di bidangnya. Pelaksanaan suatu strategi di media sosial perlu mempertimbangkan pemanfaatan dan optimalisasi dari berbagai media sosial tersebut. Kemudian, semua ini harus dipertahankan dengan kualitas percakapan yang konsisten.

3. Monitoring and Reporting

Setelah pelaksanaan, tahap berikutnya adalah memantau proses percakapan yang terjadi di media sosial dengan mendalam dan secara berkala. Pada tahap ini dilakukan juga pemantauan terhadap berbagai perusahaan maupun brand pesaing.

Arwuda Indonesia

Arwuda Indonesia

Info lebih lengkap bisa mengunjungi http://arwudanews.com/ atau http://www.arwuda.com atau follow Twitter-nya di @ArwudaID dan Facebook di Arwuda Indonesia.

Nah, siap memenangkan persaingan di dunia bisnis dengan bantuan Arwuda?

Twitteran


Tags: , , , , , ,

 
0

Si Asam Pedas Palumara

Posted by fransiska arie on Feb 8, 2012 in all about kuliner

Seperti biasa, kalau hari libur, kerjaanku berkutat di dapur. Kali ini aku mencoba memasak palumara, masakan berkuah dengan bahan dasar ikan. Ini merupakan kali pertama aku memasak palumara. Aku baru sekali mencicipi masakan bercitarasa asam pedas tersebut, yakni waktu  liputan ke Makassar beberapa waktu lalu dan langsung jatuh cinta dengan rasanya.

Pagi-pagi dengan semangat 45 aku melenggang ke pasar. Kondisi jalanan pasar yang becek tidak menyurutkan niatku untuk berburu kepala kakap (wuih dramatis ya :p ). Hampir setiap penjual ikan kusambangi, namun olala ternyata mereka tidak menjual kepala kakap.

‘Mahal neng kepala kakap, adanya ikan-ikan ini. Beli tongkol saja,” ujar salah seorang ibu penjual ikan.

Yahhhh….kok ikan tongkol. Aku hampir tergoda membeli kepiting gara-gara melihat tumpukan kepiting di ember seorang penjual ikan, namun kembali meneguhkan niat untuk tetap memasak palumara.

Akhirnya setelah muter-muter di dalam pasar, ada juga yang menjual kepala kakap , itu pun si penjual harus mengambil dulu di tempat juragannya. Bapak penjual ikan berbaik hati membelah kepala ikan dan membersihkannya. Aku pulang dari pasar dengan menenteng 3 buah kepala ikan kakap dan berbagai macam bumbu. Misi berhasil :)

——————

Berbekal resep contekan dari Detikfood dengan modifikasi seperlunya, aku mengolah kepala ikan kakap itu.

Bahan

3 buah kepala kakap merah

Haluskan

5 butir bawang merah

4 butir bawang putih

5 buah cabai merah keriting

5 buah cabai rawit merah

3 buah kemiri sangrai

1 ruas kunyit

8 buah cabai rawit, biarkan utuh

1 buah tomat, iris

2 batang serai, iris

1 lembar daun kunyit, iris

2 lembar daun jeruk nipis, iris

air asam jawa secukupnya

air jeruk nipis secukupnya

Garam secukupnya

Gula secukupnya

Air secukupnya

bumbu palumara

bumbu palumara

Cara membuat

  1. Lumuri kepala kakap dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan sebentar.
  2. Tumis bumbu halus dan semua bumbu. Masukkan air asam jawa dan air jeruk nipis secukupnya.
  3. Tuang air, didihkan. Masukkan kepala ikan, masak sampai matang.

bumbu halus

bumbu halus
palumara

palumara

Hmmm….walaupun tampilannya engga secantik yang dijual di Ulu Juku, tapi dari segi rasa tidak mengecewakanlah :)

Tags: , , , , , , ,

 
0

Oseng Jantung Pisang Ikan Cue

Posted by fransiska arie on Jan 30, 2012 in all about kuliner

oseng jantung pisang

oseng jantung pisang

Akhir-akhir ini aku lagi suka nyobain masak sayur yang belum pernah aku makan. Salah satunya adalah sayur jantung pisang. Awalnya karena penasaran saja sih, ingin tahu rasa sayur jantung pisang itu seperti apa. Waktu aku tanya ke kakakku, katanya sepet-sepet pahit rasanya. Beda lagi testimoni dari teman kantorku, katanya enak kalau dimasak dengan nasi liwet, bisa habis banyak makannya.

Nah, daripada penasaran, akhirnya aku putusin untuk mencoba memasak jantung pisang. Bermodal uang Rp1.500 aku sudah bisa menenteng pulang jantung pisang.

Sebelum dimasak, jantung pisang itu kukupas kelopak luarnya yang berwarna merah, hingga tampak lapisan yang berwarna putih. Setelah itu, aku belah memanjang menjadi dua, iris-iris, lalu cuci, dan remas-remas dengan garam supaya getahnya hilang. Jantung pisang itu kemudian aku rebus dengan sedikit garam, lalu aku masak oseng.

Oseng Jantung Pisang

Bahan

1 buah jantung pisang rebus

5 ekor ikan cue, goreng, suwir-suwir

5 buah cabai rawit merah, iris

3 buah cabai merah keriting, iris

4 lembar daun jeruk, iris

Haluskan

4 butir bawang merah

3 siung bawang putih

Garam secukupnya

Gula pasir secukupnya

Cara membuat

  1. Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan cabai, daun jeruk.
  2. Masukkan suwiran ikan cue, aduk.
  3. Masukkan jantung pisang, tambahkan sedikit air. Bubuhkan garam dan gula pasir, aduk rata hingga air kering.

Dari segi tampilan sih memang kurang menarik, si jantung pisang agak cokelat kehitaman gitu, tapi dari segi rasa jauh lebih ‘cantik’ dari tampilannya (ehemmm).

Menurut artikel yang dikutip dari Detikfood, meskipun remeh dan murah, jantung pisang bernutrisi tinggi. Tiap 25 gram jantung pisang, mengandung 31 kkal kalori, 7.1 gram karbohidrat, 0.3 gram lemak, dan 1.2 gram protein. Selain itu, ada kandungan mineral (fosfor, kalsium, dan zat besi) serta vitamin (A, B1, dan C), dan serat pangan. Jantung pisang baik dikonsumsi oleh orang yang sedang diet lemak karena rendah lemak dan memberi rasa kenyang lebih lama. Penderita diabetes juga bisa makan jantung pisang karena indeks glikemik (GI) nya rendah. Kandungan serat dalam jantung pisang dapat memperlancar pencernaan serta mengikat lemak dan kolesterol untuk dibuang bersama kotoran. Juga dapat mencegah penyakit jantung dan stroke karena dapat memperlancar sirkulasi darah dan bersifat antikoagulan (mencegah penggumpalan darah).

Wah…wah…wah…ngga nyangka ya ternyata si jantung pisang ini memiliki khasiat yang begitu dahsyat :D

Kapan-kapan ingin nyoba masak jantung pisang versi lain, selain dioseng.

Tags: , , , , , ,

 
0

Sedapnya Tumis Genjer

Posted by fransiska arie on Jan 4, 2012 in all about kuliner

tumis genjer

tumis genjer saus tiram

Setiap hari Senin, saat jam istirahat, aku menyempatkan diri untuk mlipir berbelanja ke supermarket  di dekat kantor.  Seperti biasa, dengan berbekal catatan barang-barang yang harus dibeli, aku menyusuri rak-rak bahan makanan. Kali ini aku harus menelan kekecewaan karena sayap ayam dan beberapa sayuran yang aku cari ternyata kosong.

Hmmmm….jadi bingung mau masak apa

Tiba-tiba mataku tertumbuk pada beberapa ikat genjer di rak sayuran. Daunnya lebar-lebar dan tampak segar. Wah kayanya cocok nih buat menu makan malam. Alhasil, seikat genjer berpindah ke keranjang belanjaanku.

Malamnya, setelah disiangi dan dicuci, genjer itu kutumis. Proses memasaknya sangat sederhana dan cepat.

Bahan

Seikat genjer, siangi, cuci, potong 2

1/2 buah tomat merah, potong-potong

Bumbu

3 butir bawang merah, iris tipis

2 siung bawang putih, iris tipis

3 buah cabai setan (cabai yang gendut dan puedes itu lho), iris

1 buah cabai merah keriting, iris

Saus tiram secukupnya

Garam secukupnya

Gula pasir secukupnya

1/2 sdt merica bubuk

Cara membuat

  • Panaskan minyak, tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum. Masukkan cabai.
  • Masukkan genjer, aduk-aduk.
  • Tuang sedikit air, masukkan saus tiram, bubuhkan garam, gula, merica. Masukkan tomat. Aduk cepat, angkat.

Tumis genjer bersanding dengan nasi hangat serta tempe goreng dan ikan asin gabus goreng, wah mantappp…*menunya kaya zaman penjajahan ya..hahahaha

Dulu di zaman penjajahan, karena sulitnya mendapatkan bahan makanan, sayur yang tumbuh di rawa-rawa ini memang sering dikonsumsi, sehingga genjer sering diidentikkan dengan kemelaratan. Sayur genjer juga mengingatkan kita pada lagu kontroversial Genjer-genjer, yang dicap sebagai lagu PKI.

Walaupun murah, jangan sepelekan sayur yang memiliki nama latin Limnocharis flava ini, karena dari sebuah artikel yang aku baca, genjer bagus untuk melancarkan proses pencernaan karena kandungan seratnya tinggi. Nah lho, masih enggan makan sayur melarat, eh sayur genjer?

Tags: , , , , ,

 
2

7 ‘Dosa’ Pengendara Motor

Posted by fransiska arie on Des 2, 2011 in unek-unek

Sudah 11/2 tahun aku pergi-pulang kerja naik motor. Selama perjalanan, baik secara sengaja atau tidak, aku memerhatikan perilaku para pengguna jalan, khususnya sesama pengendara sepeda motor. Setidaknya ada 7 perilaku pengendara motor yang menurutku menyebalkan dan mengganggu pengguna jalan lainnya. Apa saja itu?

1. Naik motor sambil sibuk sms-an atau telponan

Perilaku yang satu ini benar-benar menyebalkan, karena dengan sibuk sms-an atau telponan di atas motor, tentu saja konsentrasi si pengendara motor menjadi buyar, akibatnya laju motor zig-zag dan mengganggu pengendara yang lain, khususnya yang berada di belakang atau di sampingnya. Padahal sebenarnya apa susahnya sih kalau sms-an atau telponannya ditunda dulu. Kalau memang ada sms atau panggilan yang sangat penting, mbok ya menepi dulu, berhenti baru mengangkat telpon.

2. Bercanda di atas motor dengan teman atau pasangannya

Yang ini nih, juga bikin sebel. Mentang-mentang lagi boncengan dengan pacar, lalu lupa tempat. Bercanda, cubit-cubitan, ketawa-ketawa, trus laju motornya pelan, posisi di tengah jalan, ke kiri engga, kanan engga, kan jadi bikin bingung pengendara yang lain cuy. Jadi please deh, fokus dulu ke jalan, aktivitas cubit-cubitannya ditunda dulu. Esmosi nih…grrrr……

3. Naik motor berderet dengan temannya sambil ngobrol

Yang ketiga ini mirip-mirip dengan yang nomor dua. Bedanya, kalau yang ini, ada 2 orang atau lebih, naik motor yang berbeda, lalu jalannya berdampingan menuh-menuhin jalan, sambil teriak-teriak ngobrol. Wealahhh…..ini jalan mas/mba, bukan warung kopi.

4. Menerobos trotoar jalan

Paling sering terjadi kalau lagi macet, wuihhh…..orang menjadi tidak sabaran. Trotoar jalan pun ‘dihajar’ ngga peduli ada pejalan kaki. Jika semestinya si pejalan kaki yang marah karena jalannya diserobot, yang terjadi justru sebaliknya. Para ‘jagoan’ ini justru dengan garang mengklakson para pejalan kaki supaya memberi mereka jalan. Walaupun kita sedang buru-buru, tolong tetap hargai hak pejalan kaki dong.

5. Hobi pencet klakson dan mengumpat

Orang bilang kalau sedang di jalan, apalagi sedang mengendarai motor atau mobil, emosi menjadi lebih gampang tersulut. Iya sih, pendapat tersebut ada benarnya, karena saat di jalan, kadang aku juga kurang sabar, apalagi kalau ada pengendara yang berperilaku seperti no1-3. Tapi bukan berarti kita boleh mengumpat sembarangan, meneriakkan sumpah serapah ke orang lain. Sering kejadian seperti ini, ketika di traffic light, lampu masih merah, angka penunjuk waktu masih 3, orang sudah heboh memencet klakson dan teriak-teriak, meminta pengendara di depannya untuk segera jalan. Sabar Mas, Mba!
6. Tidak menyalakan lampu sign saat belok atau lupa mematikan lampu sign setelah belok

Keliatannya sepele, tapi ini berbahaya, karena ketika ada seorang pengendara lupa atau malas menyalakan lampu sign saat belok, bisa saja tertabrak oleh pengendara di belakangnya. Kadang pengendara motor lupa mematikan lampu sign setelah belok sehingga membuat bingung pengendara motor di belakangnya, atau yang ngga kalah berbahaya, lampu sign menyala kanan eh ternyata tiba-tiba belok ke kiri. Yuk biasakan menyalakan sign kalau mau belok dan selalu ingat  matiin sign kalau sudah belok!

7. Meludah atau buang ingus sembarangan

Hiiiiii…ini yang paling menjijikkan…lagi asyik naik motor eh tiba-tiba ‘cuhhhh’ ada yang ngludah atau ’srotttt’ buang ingus dari atas motor. Kasian dong pengendara yang lain kalau ketiban ‘rezeki’ air ludah atau ingus.

So….mari temans, sesama pengguna jalan, khususnya para pengendara motor, mari kita berkendara dengan santun. Perhatikan hak pengguna jalan yang lain, jaga emosi dan sikap saat berkendara. Saya aman, Anda aman, kita semua aman :)

Tags: , , , , , ,

 
2

Susah Mana, Cari Kos atau Cari Pacar?

Posted by fransiska arie on Sep 28, 2011 in Uncategorized

Sebagai anak kos dari tahun 2004-sekarang, banyak pengalaman seru maupun menjengkelkan yang aku alami, salah satunya yang pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya, tentang kos rimba. Kali ini aku mau cerita soal pengalaman menjadi anak kos di Jakarta.

Hmmm…..cari kos yang pas di hati dan di kantong itu memang gampang-gampang susah. Kalo diibaratin, nyari kos yang cocok itu sama kaya nyari pacar, harus benar-benar kena di hati alias ngeklik. Kenapa? Karena kalau salah pilih bisa bikin uring-uringan, panas dingin, ngomel-ngomel, bawaannya senewen. Hihihihi…terlalu lebay kayanya :D

Eh tapi bener lho, emang cukup ribet buat nemuin kos yang pas. Ini yang aku alamin selama aku menjadi anak kos di Jakarta.

Kos 1

Petualanganku menjadi anak kos di Ibukota dimulai saat aku mendapat tawaran untuk pindah kerja ke kantor Jakarta. Begitu sampai di ibukota, dengan ditemani kekasih hati (eheemmm) muter-muter cari kos. Syaratnya sih sebenarnya ga terlalu muluk, yang penting bersih dan nyaman.

Setelah melongok-longok dari satu gang ke gang lain di seputaran Buncit, Mampang, Kuningan, tanya sana sini, keluar masuk rumah kos satu ke rumah kos yang lain. Deng…deng…deng…..akhirnya kami menemukan sebuah kos yang begitu menawan. Singkat kata, aku langsung terpesona, jatuh cinta pada pandangan pertama. Kos itu terlihat bersih, memiliki halaman cukup luas dengan berbagai tanaman. Wowwww…..dengan mantap aku langsung memutuskan untuk menempati salah satu kamar kos tersebut.

Kosku itu terdiri atas 2 lantai, bangunannya terbilang masih baru. Aku memilih menempati kamar di bawah paling pojok, dengan pertimbangan dekat dengan pagar masuk, jadi tidak perlu jalan jauh dan naik tangga. Kondisi kos waktu itu sepi. Waktu aku tanyakan ke si empunya kos, si bapak bilang kalau temen kos yang lain lagi pada pulang kampung, soalnya lagi libur lebaran disambung liburan Natal dan tahun baru.

Ternyata si bapak dan ibu kos tidak tinggal di kos tersebut, mereka tinggal di daerah Mampang atau mana gitu. Masih satu pekarangan dengan kosku, ada satu rumah lagi, yaitu rumah anak bapaknya. Tapi selama aku tinggal di satu, jarang berpapasan dengan anaknya.

Seminggu, dua minggu, teman-teman kos tak kunjung datang. Aku pikir, masak iya, libur mereka lama banget, kok belum balik-balik kos. Hingga suatu pagi, aku mampir membeli makan di warung dekat kos….

“Mba, kos dimana?,” tanya si ibu pemilik warung

“Kos di situ bu, tempat Pak Haji ******,” jawabku sambil memilih lauk.

“Ohhhh berarti kos sendirian dong di situ, ga ada temennya?” lanjut si ibu dengan penuh semangat.

Ah masa sih bu. Kata bapaknya ada temennya kok di situ,” jawabku tak percaya.

“Benerrrr…..yang pada kos di situ kan pada ga betah, satu masuk, keluar, masuk satu lagi, keluar lagi. Airnya di situ kan kaya berlumpur gitu kan?” cecar si ibu.

“Oh iya ya? Selama ini sih baik-baik aja sih Bu airnya,”

Setelah percakapan itu, aku mulai terpengaruh. Aku merasa ditipu  bapak kos. Ternyata aku sendiri di kos itu, pantes sepi banget. Pikiran-pikiran negatif pun mulai melintas di benakku. Setiap pulang kerja, suasana lingkungan kos gelap. Di depan pintu kamar cuma ada kucing yang duduk di atas keset. Sedihhhhh rasanya, kesepian. *ceileee….

Aku makin uring-uringan, ketika suatu hari pas mau mandi, air berlumpur. Tanpa babibu, aku langsung ketok-ketok pintu rumah anak si bapak kos buat komplain. Katanya sih karena habis mati listrik, jadinya air kotor.

Sebenarnya sih ada beberapa keganjilan di kosku yang ini:

Pertama, letak kamar mandi memang ada di dalam setiap kamar, tapi tanpa wc. WC terletak di luar, paling pojok setelah kamar-kamar, persis di bawah tangga yang mengarah ke atas. Jadi kebayang dong, kalau tengah malam kepengen ‘merenung’ harus lari-lari ke pojokan melewati deretan kamar-kamar kosong.

Kedua, lampu kamar bukan lampu berwarna putih, tapi kuning. Jadi suasana kamar remang-remang. Kalau saklar lampu kamar kita matikan, arus listrik akan mati semua. Jadi kita ngga bisa nyalain dispenser, TV, atau nge-charge ponsel.

Ketiga, sinyalnya ampuunnnn deh. Kalau lagi mau nelpon jadi susah, soalnya sinyalnya suka hilang. Sampai-sampai kakakku pernah bilang, tinggal di Jakarta kok kaya di hutan, susah sinyal, jadi ga bisa ditelpon. Hmmm….mungkin ini karena posisi kosku ada di dataran rendah, hehehe….maksudnya posisi tanahnya lebih rendah dibanding rumah-rumah tetangga (di turunan).

Buat ‘mengelabui’ diri sendiri, aku suka muter musik kenceng-kenceng, biar seolah-olah ada orang lain yang tinggal di situ. Setelah sebulan tinggal di situ, aku ngga kuat lagi merana sebatang kere *nggak nggak nggak kuat….aku ngga kuat…ngekos situuu…*. Akhirnya aku capcus alias hengkang dari kos.

Petualangan mencari kos baru dimulai……..

Kos 2

Kos kedua ini letaknya cuma beda satu gang dari kos pertama. Aku masuk kos ini atas rekomendasi seorang teman kantor yang juga kos di situ. Sewaktu aku datang, sekitar kamar kos masih dipenuhi dengan puing-puing sisa renovasi. Debu material pun masih beterbangan ke sana-sini. Tapi ya namanya kepepet, daripada ngga punya kos-kosan, akhirnya aku pilih kos itu.

Kosku yang kedua adalah kos-kosan campur, maksudnya penghuninya cowok dan cewek. Tamu bebas keluar masuk jam berapa saja. Awal-awal kos, aku merasa senang karena bisa bertemu dengan manusia setelah sekian lama cuma berteman dengan kucing di kos pertama (hihihihi hiperbol). Tapi kegembiraanku tidak bertahan lama. Kenapa? karena ternyata mayoritas penghuni kos adalah karyawan freelance di sebuah stasiun TV yang jam kerjanya tak tentu.

Posisi kamarku dekat tangga naik, di depannya ada teras kecil. Hampir setiap hari mereka nongkrong di teras itu. Awalnya aku tidak terganggu dengan rutinitas nongkrong itu. Hmmm…tapi ternyata mereka sangat betah nongkrong, bisa sampai tengah malam, genjrang-genjreng main gitar sambil nyanyi, ngrokok, ngobrol, sesekali mengumpat dalam bahasa Jawa kasar. Bahkan pernah, suatu malam, lagi hujan deras nih….tiba-tiba aku terbangun, ada teriakan-teriakan sumpah serapah dalam bahasa Jawa, dugaanku ada yang lagi berantem. Berhubung mau keluar kamar takut, kutajamkan pendengaranku. Ternyata memang benar ada yang lagi berantem. Ada 2 orang cowok lagi beradu mulut dan ada beberapa suara cewek yang berusaha melerai. Aku juga mendengar ada suara botol dipecah. Dari hasil nguping aku menyimpulkan bahwa cekcok bermula dari acara nonton bareng pertandingan sepakbola di kamar salah seorang anak kos, trus ada salah seorang yang terlalu bawel mengomentari jalannya pertandingan. Salah seorang yang lain merasa terganggu dan menegur si ‘komentator’. Karena berada di bawah pengaruh alkohol, emosi pun mudah tersulut, akhirnya berantem-lah mereka.

Rupanya bukan cuma aku yang terganggu dengan kehebohan-kehebohan di malam hari, teman-teman sekantorku yang ngekos di situ juga merasa terganggu.Apalagi setelah beberapa kali terjadi peristiwa pencurian, yang konon katanya malingnya beraksi dini hari dan masuk melalui jendela kamar, bahkan motor di halaman pun diangkut. Satu demi satu teman-teman kantorku memilih cabut dari kos itu. Aku pun tak mau ketinggalan ikutan pergi.

Kos 3

Nah kos yang ketiga ini hasil rekomendasi salah seorang temen kantor juga. Sebenarnya dulu aku pernah ngincer kos ini, tapi sayangnya lagi ngga ada kamar kosong. Sampai sekarang aku masih kerasan tinggal di kos ini. Halamannya lumayan luas, bersih, ada tanaman-tanaman yang bikin sejuk, ada tempat parkir, kamar lumayan luas, ada teras kecil di belakang buat jemur, kamar mandi di dalam kamar, sirkulasi udara bagus, air lancar dan bersih, ada kompor di tiap deret kamar, pokoknya sip deh.

Pernah sih ada teman yang ngajakin pindah kos, tapi aku belum tergiur buat pindah. Ngga mau lagi deh coba-coba yang belum pasti, apalagi mengingat kalau nyari kos yang cocok di hati itu ngga gampang. Moga-moga sih kosku yang sekarang ini  bakal menjadi tempat nyaman untuk seterusnya, ehhh tapi bukan berarti aku mau ngekos selamanya lho, setidaknya sampai aku punya rumah sendiri buat ditinggali :D

Tags: , , , , , , ,

 
0

Ikan Bakar Bambu & Sup Ikan, Joss Tenan

Posted by fransiska arie on Agu 26, 2011 in cerita seru

Gara-gara obrolan iseng di sela-sela rapat soal tempat makan yang oke, aku jadi penasaran pengen nyobain menu ikan bakar bambu Kalimantan di Cimanggis yang diceritakan teman pemasaran. Katanya sih rumah makannya rameee banget sampai waiting list. Wuih sampai segitunya kah?

Waktu aku cerita ke pacarku soal ikan bakar bambu Cimanggis, eh ternyata dia sudah tahu duluan. Katanya memang ruameee (saking ramenya :p ). Akhirnya kita sepakat (udah kaya rapat aja :p) ke sana hari Sabtu (13/8). Nah, biar ga antre, kita booking tempat dan pesan menu dari hari Rabu. Hahahaha niat banget ya.

Sabtu sore meluncurlah kami ke sana (aku, pacarku beserta keluarganya). Oh ya nih sekadar info buat yang pengen ke pondok ikan bakar ini, kalau dari arah Jakarta masuk ke tol Jagorawi, keluar tol Cimanggis, letaknya ngga jauh dari pintu keluar tol Cimanggis, dekat lapangan golf Emeralda. Nah, kalau dari tol arah Bogor, putar balik di tol Cibubur. Masuk tol lagi, keluar deh di Cimanggis.

Sampai di sana jam 6 tet. Wuahhh ternyata bener rame lho, sampai ada yang waiting list, untung udah pesan. Eh tapi begitu mau duduk, meja jatah kita sudah dipakai orang. Untungnya pelayannya sigap menghalau (kaya ayam aja, hehehehe) orang yang sedang duduk.

Berhubung datangnya pas jam buka puasa, kita dapat takjil gratis, kolak dan air mineral, lumayan lah buat ganjal perut sebelum hidangan utama datang :D

10 menit, 15 menit, 20 menit……. dengan gelisah kami menunggu kedatangan si ikan yang konon jadi primadona di tempat makan ini, berkali-kali kami melirik jam di hp masing-masing. Wah udah pesan saja masih lama, bagaimana yang langsung datang tanpa pesan ya, denger-denger  sih butuh waktu hingga 3 jam buat bakar ikan patin dalam bambu.

30 menit kemudian, treng-treng…..si pelayan datang membawa pesanan kami. Senyum sumringah pun terkembang di bibir. Pertama kali yang datang es jeruk kelapa muda (Rp 25.000). Wuihhhhhh gelasnya guede (walaupun masih kalah gede dengan gelas di RM Raminten Yogyakarta). Gula cair dan es batu ditempatkan terpisah sehingga kami bisa mengambil sesuai selera.

Ini nih foto es jeruk kelapa mudanya…..

  • es-jeruk-kelapa1
  • Setelah menyeruput es jeruk kelapa muda sambil jeprat-jepret berfoto ria, akhirnya si ikan patin bakar bambu (Rp 99.000) tersaji di meja. Tampilannya lumayan menggoda, ikannya ‘ngumpet’ di bumbu merah yang berlimpah. Hmmmmmmm kayanya enak nih. Beberapa menit kemudian sup ikan (Rp 117.000) dan sayur asem (Rp 10.000) juga tersaji. Daun kemangi, tomat, dan cabe rawit tampak segar dan cantik menghiasi sup ikan gurame itu.

    Ini nih foto ikan bakar bambu

    ikan-patin1

    Tanpa menunggu lama, kami segera melahap menu-menu tersebut. Daging ikannya tebal. Waktu disuapkan ke mulut bersama nasi (Rp 6.000), lalapan, dan sambal mangga, hmmm…serasi banget. Nyam..nyam…nyammm…..jossss tenan.

    Sesekali tanganku menyendok sup ikan gurame di mangkuk. Walaupun si ikan bakar enak, menurutku yang juara justru sup ikannya. Cita rasa supnya begitu ringan dan segar. Tekstur ikannya lembut, berpadu apik dengan kemangi, tomat, dan cabai rawit. Si sayur asem nyaris tidak dijamah, karena kalah pamor dengan sup dan ikan bakar.

    sop ikan

    Ngga sia-sia kami datang ke pondok ikan ini. Kapan-kapan pengen datang lagi ke sini.

    Info aja, harga ikan patin bakar bambu dan sup gurame disesuaikan dengan berat ikan. Makin berat ya makin mahal :)

     
    0

    Selamat Jalan Os!

    Posted by fransiska arie on Jun 28, 2011 in Uncategorized
    oscar

    oscar

    Hal yang kami takutkan akhirnya benar-benar terjadi, Oscar mati. Ini berarti kami tidak akan melihat lagi si anjing tua ini lompat-lompat menyambut tamu, toel-toel kaki minta dielus, garuk-garuk pintu mau pipis, dan lompat-lompat nagih jatah bakso.

    Sore itu, 21 Juni, jam 16.30, aku lagi asyik ngobrolin Oscar bersama bosku. Aku cerita klo hari Minggu kemarin, Oos lagi makan trus kejungkal, kepalanya nyusruk ke piring makan. Sepertinya kakinya udah tidak kuat. Kakinya gemetaran kalau jalan, kerjaannya tidur terus. Bahkan si Oscar mulai ngompol. Jadi, tubuh Oscar harus dilap sama ibu pacarku supaya tidak pesing. Kalau sedang dilap, Oscar terlihat pasrah, matanya tertutup. Pokoknya ga tega lihatnya. Oscar yang ceria dan lincah lari ke sana-sini sekarang terkulai lemah.

    Waktu lagi asyik cerita, tiba-tiba sebuah sms masuk ke HP-ku.

    ‘Mba ikut berduka cita ya, Oscar mati, skrg lagi dikubur’ ternyata sms dari karyawan toko pacarku yang isinya mengabarkan kalau Oscar udah mati.

    Sontak, hatiku rasanya kosong. Tiba-tiba mataku panas dan berair. Mungkin orang yang belum pernah menyayangi binatang dengan sepenuh hati akan menganggap sikapku berlebihan. Tapi itu yang aku rasain saat itu.

    Hmmm aku sebenarnya sadar kalau cepat atau lambat Oscar bakal mati, apalagi melihat kondisinya yang terus memburuk dari hari ke hari. Tapi, tetap saja rasanya sedih mengetahui Oscar sudah mati.

    Waktu malam harinya pacarku menelepon, tangisku pun pecah. Katanya sehari sebelum Oscar mati, dokter hewan bilang umur Oscar ga akan panjang lagi, jadi disayang-sayang aja biar seneng. Esok harinya, Oscar sama sekali tidak mau makan. Bahkan saat disodori bakso, makanan kesukaannya,  Oscar juga tak mau makan. Seharian Oscar tiduran terus.

    Siang menjelang sore, Oscar seperti merintih-rintih kesakitan, Alpha-anjing yang lain- terlihat gelisah, muter-muter ga karuan. Mungkin dia tahu kalau ajal Oscar sudah dekat. Sore, sekitar jam 16.30, Oscar mati.  Mungkin saat aku ngobrolin Oscar, dia sedang kesakitan. Oscar si anjing tua yang manis dikubur di belakang rumah.

    Selamat jalan Os, terima kasih aku sudah boleh mengenalmu. Semoga kamu bahagia di tempatmu yang baru. Mata dan kakimu pasti udah ngga kerasa sakit lagi. Jadi kamu bisa maen, lari-larian, lompat-lompat bareng temen-temenmu, trus makan bakso sepuasnya.

    We’ll always love you, Os!

    Tags: , , , , , , ,

     
    3

    Kenangan Warung Tenda

    Posted by fransiska arie on Mei 24, 2011 in cerita seru

    Sewaktu masih di Yogyakarta (sekitar 3 tahun lalu) aku punya beberapa tempat favorit untuk makan, khususnya makan malam. Kebetulan di sekitar kosku, di daerah Babarsari banyak terdapat warung tenda yang berderet di sepanjang trotoar.

    Salah satu tempat favorit untuk makan yaitu warung makan Pak Dhok-Dhok yang menyediakan beberapa jenis makanan, yaitu capcay, nasi goreng, kwetiaw, bihun, dan fuyunghay. Warung makan ini terletak di belakang kosku, di dekat sawah-sawah Kledokan. Warungnya sangat sederhana, hanya ada 2 meja dengan 4 kursi panjang yang berhadapan. Sisi kiri kanan warung ditutupi dengan spanduk yang berfungsi untuk dinding. Waktu itu Pak Dhok-Dhok masih menggunakan petromax untuk penerangan. Kadang kalau lagi makan, petromax mati karena kehabisan bahan bakar. Alhasil warung jadi gelap gulita. Pegawai Pak Dhok-Dhok  dengan sigap mengisi bahan bakar lalu memompanya agar menyala lagi. Paling susah kalau lagi hujan deras, kita bakal terkena cipratan air hujan.

    Seminggu 2-3x aku menyambangi warung Pak Dhok-Dhok. Tiap kali makan di situ, aku selalu memesan capcay rebus. Pak Dhok-Dhok sampai hafal. Begitu melihat aku masuk warung, Beliau langsung menyambut dengan pertanyaan ‘Capcay rebus mba?’

    Sekarang kalau aku lagi maen ke Yogya, aku berusaha menyempatkan diri mampir makan di warung Pak Dhok-Dhok. Beliau akan menyambutku dengan ramah

    ‘Wah langganan lama, mari-mari. Capcay yo?’

    Biasanya Pak Dhok-Dhok akan menambah porsi capcay pesananku.

    ‘Buat langganan lama, kan sekarang jarang kepethuk’ gitu kata Pak Dhok-Dhok.

    Selain Pak Dhok-Dhok, warung makan yang sering aku kunjungi adalah warung tenda penyetan Handayani yang letaknya di dekat pertigaan Citrouli Babarsari. Dari segi menu tidak beda jauh dengan penyetan-penyetan lain, tapi yang istimewa adalah pelayanannya yang cepat. Begitu kita memilih lauk yang sudah digoreng setengah matang (menu favoritku ati ayam dan terong goreng), si penjual dengan cekatan akan menggorengnya. Tanpa banyak bicara, pegawai yang lain akan mengulek sambal di cobek-cobek yang disusun berjajar di meja. Kita bebas menentukan jumlah cabai rawit hijau untuk sambal kita.

    Tidak jauh dari warung tenda Handayani, ada warung tenda Kang Gareng. Warung ini menyediakan menu penyetan, ikan bakar, dan siomay. Ada beberapa varian sambal yang bisa kita pilih, seperti sambal bawang, sambal terasi, sambal kecap dan sambal tomat mentah. Rasa sambal bawangnya benar-benar bikin huah-huah, pedasnya mbudhekke kuping, alias puedes tenan. Kalau pesen sambal bawang, lebih baik kita minta ke si tukang ngulek sambel, bawangnya sedikit aja, soalnya kalau ngga dipesenin gitu, habis makan sambal, aroma mulut kita bisa bikin pingsan orang di samping kita, saking menyengatnya aroma bawang  (lebay :p ). Rasa siomay Kang Gareng cukup enak, cocok untuk camilan sore hari. Cuma yang bikin senewen, pelayanannya luaamaa. Pegawai-pegawainya tidak sesigap di Handayani.

    Dulu aku juga sering mengunjungi warung penyetan di belakang kosku, di dekat kantor Telkom arah Kledokan. Warung ini menyajikan beberapa menu penyetan standar seperti tahu, tempe, ayam, dan ikan. Menu yang sering kupesan di warung ini adalah ikan bandeng goreng dengan sambal teri. Kalau makan di warung ini, kita harus ekstra sabar, karena pelayanannya lama. Celakanya, penjualnya sering lupa pesanan kita, alhasil pembeli yang kelaparan pun harus rela ‘terlantar’. Yang bikin geli, penjualnya (kayanya satu keluarga ayah-ibu-anak) kadang berantem di depan pembeli. Mereka saling menyalahkan jika ada pembeli yang protes karena tak kunjung dilayani.

    Satu lagi warung makan yang dulu sering kusambangi, warung Pak Jok, di depan toko pernak-pernik Petraco. Menu andalannya adalah ikan bakar. Ikan ini disajikan bersama sambal, lalapan, dan rebusan daun singkong berbumbu seperti di rumah makan Padang.

    Yang pasti, rasa masakan di warung-warung yang sering aku kunjungi itu cukup maknyus dan tentunya harganya tidak bikin kantong bolong. Kapan-kapan kalau maen ke Yogya, pengen rasanya menyambangi warung makan-warung makan itu lagi sambil mengenang masa-masa kuliah dulu.

    Tags: , , , , , , , , , , , , ,

    Copyright © 2008-2012 NGALOR NGIDUL All rights reserved.
    Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.