0

Sedapnya Tumis Genjer

Posted by fransiska arie on Jan 4, 2012 in all about kuliner

tumis genjer

tumis genjer saus tiram

Setiap hari Senin, saat jam istirahat, aku menyempatkan diri untuk mlipir berbelanja ke supermarket  di dekat kantor.  Seperti biasa, dengan berbekal catatan barang-barang yang harus dibeli, aku menyusuri rak-rak bahan makanan. Kali ini aku harus menelan kekecewaan karena sayap ayam dan beberapa sayuran yang aku cari ternyata kosong.

Hmmmm….jadi bingung mau masak apa

Tiba-tiba mataku tertumbuk pada beberapa ikat genjer di rak sayuran. Daunnya lebar-lebar dan tampak segar. Wah kayanya cocok nih buat menu makan malam. Alhasil, seikat genjer berpindah ke keranjang belanjaanku.

Malamnya, setelah disiangi dan dicuci, genjer itu kutumis. Proses memasaknya sangat sederhana dan cepat.

Bahan

Seikat genjer, siangi, cuci, potong 2

1/2 buah tomat merah, potong-potong

Bumbu

3 butir bawang merah, iris tipis

2 siung bawang putih, iris tipis

3 buah cabai setan (cabai yang gendut dan puedes itu lho), iris

1 buah cabai merah keriting, iris

Saus tiram secukupnya

Garam secukupnya

Gula pasir secukupnya

1/2 sdt merica bubuk

Cara membuat

  • Panaskan minyak, tumis bawang merah dan bawang putih sampai harum. Masukkan cabai.
  • Masukkan genjer, aduk-aduk.
  • Tuang sedikit air, masukkan saus tiram, bubuhkan garam, gula, merica. Masukkan tomat. Aduk cepat, angkat.

Tumis genjer bersanding dengan nasi hangat serta tempe goreng dan ikan asin gabus goreng, wah mantappp…*menunya kaya zaman penjajahan ya..hahahaha

Dulu di zaman penjajahan, karena sulitnya mendapatkan bahan makanan, sayur yang tumbuh di rawa-rawa ini memang sering dikonsumsi, sehingga genjer sering diidentikkan dengan kemelaratan. Sayur genjer juga mengingatkan kita pada lagu kontroversial Genjer-genjer, yang dicap sebagai lagu PKI.

Walaupun murah, jangan sepelekan sayur yang memiliki nama latin Limnocharis flava ini, karena dari sebuah artikel yang aku baca, genjer bagus untuk melancarkan proses pencernaan karena kandungan seratnya tinggi. Nah lho, masih enggan makan sayur melarat, eh sayur genjer?

Tags: , , , , ,

 
2

7 ‘Dosa’ Pengendara Motor

Posted by fransiska arie on Des 2, 2011 in unek-unek

Sudah 11/2 tahun aku pergi-pulang kerja naik motor. Selama perjalanan, baik secara sengaja atau tidak, aku memerhatikan perilaku para pengguna jalan, khususnya sesama pengendara sepeda motor. Setidaknya ada 7 perilaku pengendara motor yang menurutku menyebalkan dan mengganggu pengguna jalan lainnya. Apa saja itu?

1. Naik motor sambil sibuk sms-an atau telponan

Perilaku yang satu ini benar-benar menyebalkan, karena dengan sibuk sms-an atau telponan di atas motor, tentu saja konsentrasi si pengendara motor menjadi buyar, akibatnya laju motor zig-zag dan mengganggu pengendara yang lain, khususnya yang berada di belakang atau di sampingnya. Padahal sebenarnya apa susahnya sih kalau sms-an atau telponannya ditunda dulu. Kalau memang ada sms atau panggilan yang sangat penting, mbok ya menepi dulu, berhenti baru mengangkat telpon.

2. Bercanda di atas motor dengan teman atau pasangannya

Yang ini nih, juga bikin sebel. Mentang-mentang lagi boncengan dengan pacar, lalu lupa tempat. Bercanda, cubit-cubitan, ketawa-ketawa, trus laju motornya pelan, posisi di tengah jalan, ke kiri engga, kanan engga, kan jadi bikin bingung pengendara yang lain cuy. Jadi please deh, fokus dulu ke jalan, aktivitas cubit-cubitannya ditunda dulu. Esmosi nih…grrrr……

3. Naik motor berderet dengan temannya sambil ngobrol

Yang ketiga ini mirip-mirip dengan yang nomor dua. Bedanya, kalau yang ini, ada 2 orang atau lebih, naik motor yang berbeda, lalu jalannya berdampingan menuh-menuhin jalan, sambil teriak-teriak ngobrol. Wealahhh…..ini jalan mas/mba, bukan warung kopi.

4. Menerobos trotoar jalan

Paling sering terjadi kalau lagi macet, wuihhh…..orang menjadi tidak sabaran. Trotoar jalan pun ‘dihajar’ ngga peduli ada pejalan kaki. Jika semestinya si pejalan kaki yang marah karena jalannya diserobot, yang terjadi justru sebaliknya. Para ‘jagoan’ ini justru dengan garang mengklakson para pejalan kaki supaya memberi mereka jalan. Walaupun kita sedang buru-buru, tolong tetap hargai hak pejalan kaki dong.

5. Hobi pencet klakson dan mengumpat

Orang bilang kalau sedang di jalan, apalagi sedang mengendarai motor atau mobil, emosi menjadi lebih gampang tersulut. Iya sih, pendapat tersebut ada benarnya, karena saat di jalan, kadang aku juga kurang sabar, apalagi kalau ada pengendara yang berperilaku seperti no1-3. Tapi bukan berarti kita boleh mengumpat sembarangan, meneriakkan sumpah serapah ke orang lain. Sering kejadian seperti ini, ketika di traffic light, lampu masih merah, angka penunjuk waktu masih 3, orang sudah heboh memencet klakson dan teriak-teriak, meminta pengendara di depannya untuk segera jalan. Sabar Mas, Mba!
6. Tidak menyalakan lampu sign saat belok atau lupa mematikan lampu sign setelah belok

Keliatannya sepele, tapi ini berbahaya, karena ketika ada seorang pengendara lupa atau malas menyalakan lampu sign saat belok, bisa saja tertabrak oleh pengendara di belakangnya. Kadang pengendara motor lupa mematikan lampu sign setelah belok sehingga membuat bingung pengendara motor di belakangnya, atau yang ngga kalah berbahaya, lampu sign menyala kanan eh ternyata tiba-tiba belok ke kiri. Yuk biasakan menyalakan sign kalau mau belok dan selalu ingat  matiin sign kalau sudah belok!

7. Meludah atau buang ingus sembarangan

Hiiiiii…ini yang paling menjijikkan…lagi asyik naik motor eh tiba-tiba ‘cuhhhh’ ada yang ngludah atau ’srotttt’ buang ingus dari atas motor. Kasian dong pengendara yang lain kalau ketiban ‘rezeki’ air ludah atau ingus.

So….mari temans, sesama pengguna jalan, khususnya para pengendara motor, mari kita berkendara dengan santun. Perhatikan hak pengguna jalan yang lain, jaga emosi dan sikap saat berkendara. Saya aman, Anda aman, kita semua aman :)

Tags: , , , , , ,

 
2

Susah Mana, Cari Kos atau Cari Pacar?

Posted by fransiska arie on Sep 28, 2011 in Uncategorized

Sebagai anak kos dari tahun 2004-sekarang, banyak pengalaman seru maupun menjengkelkan yang aku alami, salah satunya yang pernah kuceritakan di tulisan sebelumnya, tentang kos rimba. Kali ini aku mau cerita soal pengalaman menjadi anak kos di Jakarta.

Hmmm…..cari kos yang pas di hati dan di kantong itu memang gampang-gampang susah. Kalo diibaratin, nyari kos yang cocok itu sama kaya nyari pacar, harus benar-benar kena di hati alias ngeklik. Kenapa? Karena kalau salah pilih bisa bikin uring-uringan, panas dingin, ngomel-ngomel, bawaannya senewen. Hihihihi…terlalu lebay kayanya :D

Eh tapi bener lho, emang cukup ribet buat nemuin kos yang pas. Ini yang aku alamin selama aku menjadi anak kos di Jakarta.

Kos 1

Petualanganku menjadi anak kos di Ibukota dimulai saat aku mendapat tawaran untuk pindah kerja ke kantor Jakarta. Begitu sampai di ibukota, dengan ditemani kekasih hati (eheemmm) muter-muter cari kos. Syaratnya sih sebenarnya ga terlalu muluk, yang penting bersih dan nyaman.

Setelah melongok-longok dari satu gang ke gang lain di seputaran Buncit, Mampang, Kuningan, tanya sana sini, keluar masuk rumah kos satu ke rumah kos yang lain. Deng…deng…deng…..akhirnya kami menemukan sebuah kos yang begitu menawan. Singkat kata, aku langsung terpesona, jatuh cinta pada pandangan pertama. Kos itu terlihat bersih, memiliki halaman cukup luas dengan berbagai tanaman. Wowwww…..dengan mantap aku langsung memutuskan untuk menempati salah satu kamar kos tersebut.

Kosku itu terdiri atas 2 lantai, bangunannya terbilang masih baru. Aku memilih menempati kamar di bawah paling pojok, dengan pertimbangan dekat dengan pagar masuk, jadi tidak perlu jalan jauh dan naik tangga. Kondisi kos waktu itu sepi. Waktu aku tanyakan ke si empunya kos, si bapak bilang kalau temen kos yang lain lagi pada pulang kampung, soalnya lagi libur lebaran disambung liburan Natal dan tahun baru.

Ternyata si bapak dan ibu kos tidak tinggal di kos tersebut, mereka tinggal di daerah Mampang atau mana gitu. Masih satu pekarangan dengan kosku, ada satu rumah lagi, yaitu rumah anak bapaknya. Tapi selama aku tinggal di satu, jarang berpapasan dengan anaknya.

Seminggu, dua minggu, teman-teman kos tak kunjung datang. Aku pikir, masak iya, libur mereka lama banget, kok belum balik-balik kos. Hingga suatu pagi, aku mampir membeli makan di warung dekat kos….

“Mba, kos dimana?,” tanya si ibu pemilik warung

“Kos di situ bu, tempat Pak Haji ******,” jawabku sambil memilih lauk.

“Ohhhh berarti kos sendirian dong di situ, ga ada temennya?” lanjut si ibu dengan penuh semangat.

Ah masa sih bu. Kata bapaknya ada temennya kok di situ,” jawabku tak percaya.

“Benerrrr…..yang pada kos di situ kan pada ga betah, satu masuk, keluar, masuk satu lagi, keluar lagi. Airnya di situ kan kaya berlumpur gitu kan?” cecar si ibu.

“Oh iya ya? Selama ini sih baik-baik aja sih Bu airnya,”

Setelah percakapan itu, aku mulai terpengaruh. Aku merasa ditipu  bapak kos. Ternyata aku sendiri di kos itu, pantes sepi banget. Pikiran-pikiran negatif pun mulai melintas di benakku. Setiap pulang kerja, suasana lingkungan kos gelap. Di depan pintu kamar cuma ada kucing yang duduk di atas keset. Sedihhhhh rasanya, kesepian. *ceileee….

Aku makin uring-uringan, ketika suatu hari pas mau mandi, air berlumpur. Tanpa babibu, aku langsung ketok-ketok pintu rumah anak si bapak kos buat komplain. Katanya sih karena habis mati listrik, jadinya air kotor.

Sebenarnya sih ada beberapa keganjilan di kosku yang ini:

Pertama, letak kamar mandi memang ada di dalam setiap kamar, tapi tanpa wc. WC terletak di luar, paling pojok setelah kamar-kamar, persis di bawah tangga yang mengarah ke atas. Jadi kebayang dong, kalau tengah malam kepengen ‘merenung’ harus lari-lari ke pojokan melewati deretan kamar-kamar kosong.

Kedua, lampu kamar bukan lampu berwarna putih, tapi kuning. Jadi suasana kamar remang-remang. Kalau saklar lampu kamar kita matikan, arus listrik akan mati semua. Jadi kita ngga bisa nyalain dispenser, TV, atau nge-charge ponsel.

Ketiga, sinyalnya ampuunnnn deh. Kalau lagi mau nelpon jadi susah, soalnya sinyalnya suka hilang. Sampai-sampai kakakku pernah bilang, tinggal di Jakarta kok kaya di hutan, susah sinyal, jadi ga bisa ditelpon. Hmmm….mungkin ini karena posisi kosku ada di dataran rendah, hehehe….maksudnya posisi tanahnya lebih rendah dibanding rumah-rumah tetangga (di turunan).

Buat ‘mengelabui’ diri sendiri, aku suka muter musik kenceng-kenceng, biar seolah-olah ada orang lain yang tinggal di situ. Setelah sebulan tinggal di situ, aku ngga kuat lagi merana sebatang kere *nggak nggak nggak kuat….aku ngga kuat…ngekos situuu…*. Akhirnya aku capcus alias hengkang dari kos.

Petualangan mencari kos baru dimulai……..

Kos 2

Kos kedua ini letaknya cuma beda satu gang dari kos pertama. Aku masuk kos ini atas rekomendasi seorang teman kantor yang juga kos di situ. Sewaktu aku datang, sekitar kamar kos masih dipenuhi dengan puing-puing sisa renovasi. Debu material pun masih beterbangan ke sana-sini. Tapi ya namanya kepepet, daripada ngga punya kos-kosan, akhirnya aku pilih kos itu.

Kosku yang kedua adalah kos-kosan campur, maksudnya penghuninya cowok dan cewek. Tamu bebas keluar masuk jam berapa saja. Awal-awal kos, aku merasa senang karena bisa bertemu dengan manusia setelah sekian lama cuma berteman dengan kucing di kos pertama (hihihihi hiperbol). Tapi kegembiraanku tidak bertahan lama. Kenapa? karena ternyata mayoritas penghuni kos adalah karyawan freelance di sebuah stasiun TV yang jam kerjanya tak tentu.

Posisi kamarku dekat tangga naik, di depannya ada teras kecil. Hampir setiap hari mereka nongkrong di teras itu. Awalnya aku tidak terganggu dengan rutinitas nongkrong itu. Hmmm…tapi ternyata mereka sangat betah nongkrong, bisa sampai tengah malam, genjrang-genjreng main gitar sambil nyanyi, ngrokok, ngobrol, sesekali mengumpat dalam bahasa Jawa kasar. Bahkan pernah, suatu malam, lagi hujan deras nih….tiba-tiba aku terbangun, ada teriakan-teriakan sumpah serapah dalam bahasa Jawa, dugaanku ada yang lagi berantem. Berhubung mau keluar kamar takut, kutajamkan pendengaranku. Ternyata memang benar ada yang lagi berantem. Ada 2 orang cowok lagi beradu mulut dan ada beberapa suara cewek yang berusaha melerai. Aku juga mendengar ada suara botol dipecah. Dari hasil nguping aku menyimpulkan bahwa cekcok bermula dari acara nonton bareng pertandingan sepakbola di kamar salah seorang anak kos, trus ada salah seorang yang terlalu bawel mengomentari jalannya pertandingan. Salah seorang yang lain merasa terganggu dan menegur si ‘komentator’. Karena berada di bawah pengaruh alkohol, emosi pun mudah tersulut, akhirnya berantem-lah mereka.

Rupanya bukan cuma aku yang terganggu dengan kehebohan-kehebohan di malam hari, teman-teman sekantorku yang ngekos di situ juga merasa terganggu.Apalagi setelah beberapa kali terjadi peristiwa pencurian, yang konon katanya malingnya beraksi dini hari dan masuk melalui jendela kamar, bahkan motor di halaman pun diangkut. Satu demi satu teman-teman kantorku memilih cabut dari kos itu. Aku pun tak mau ketinggalan ikutan pergi.

Kos 3

Nah kos yang ketiga ini hasil rekomendasi salah seorang temen kantor juga. Sebenarnya dulu aku pernah ngincer kos ini, tapi sayangnya lagi ngga ada kamar kosong. Sampai sekarang aku masih kerasan tinggal di kos ini. Halamannya lumayan luas, bersih, ada tanaman-tanaman yang bikin sejuk, ada tempat parkir, kamar lumayan luas, ada teras kecil di belakang buat jemur, kamar mandi di dalam kamar, sirkulasi udara bagus, air lancar dan bersih, ada kompor di tiap deret kamar, pokoknya sip deh.

Pernah sih ada teman yang ngajakin pindah kos, tapi aku belum tergiur buat pindah. Ngga mau lagi deh coba-coba yang belum pasti, apalagi mengingat kalau nyari kos yang cocok di hati itu ngga gampang. Moga-moga sih kosku yang sekarang ini  bakal menjadi tempat nyaman untuk seterusnya, ehhh tapi bukan berarti aku mau ngekos selamanya lho, setidaknya sampai aku punya rumah sendiri buat ditinggali :D

Tags: , , , , , , ,

 
0

Ikan Bakar Bambu & Sup Ikan, Joss Tenan

Posted by fransiska arie on Agu 26, 2011 in cerita seru

Gara-gara obrolan iseng di sela-sela rapat soal tempat makan yang oke, aku jadi penasaran pengen nyobain menu ikan bakar bambu Kalimantan di Cimanggis yang diceritakan teman pemasaran. Katanya sih rumah makannya rameee banget sampai waiting list. Wuih sampai segitunya kah?

Waktu aku cerita ke pacarku soal ikan bakar bambu Cimanggis, eh ternyata dia sudah tahu duluan. Katanya memang ruameee (saking ramenya :p ). Akhirnya kita sepakat (udah kaya rapat aja :p) ke sana hari Sabtu (13/8). Nah, biar ga antre, kita booking tempat dan pesan menu dari hari Rabu. Hahahaha niat banget ya.

Sabtu sore meluncurlah kami ke sana (aku, pacarku beserta keluarganya). Oh ya nih sekadar info buat yang pengen ke pondok ikan bakar ini, kalau dari arah Jakarta masuk ke tol Jagorawi, keluar tol Cimanggis, letaknya ngga jauh dari pintu keluar tol Cimanggis, dekat lapangan golf Emeralda. Nah, kalau dari tol arah Bogor, putar balik di tol Cibubur. Masuk tol lagi, keluar deh di Cimanggis.

Sampai di sana jam 6 tet. Wuahhh ternyata bener rame lho, sampai ada yang waiting list, untung udah pesan. Eh tapi begitu mau duduk, meja jatah kita sudah dipakai orang. Untungnya pelayannya sigap menghalau (kaya ayam aja, hehehehe) orang yang sedang duduk.

Berhubung datangnya pas jam buka puasa, kita dapat takjil gratis, kolak dan air mineral, lumayan lah buat ganjal perut sebelum hidangan utama datang :D

10 menit, 15 menit, 20 menit……. dengan gelisah kami menunggu kedatangan si ikan yang konon jadi primadona di tempat makan ini, berkali-kali kami melirik jam di hp masing-masing. Wah udah pesan saja masih lama, bagaimana yang langsung datang tanpa pesan ya, denger-denger  sih butuh waktu hingga 3 jam buat bakar ikan patin dalam bambu.

30 menit kemudian, treng-treng…..si pelayan datang membawa pesanan kami. Senyum sumringah pun terkembang di bibir. Pertama kali yang datang es jeruk kelapa muda (Rp 25.000). Wuihhhhhh gelasnya guede (walaupun masih kalah gede dengan gelas di RM Raminten Yogyakarta). Gula cair dan es batu ditempatkan terpisah sehingga kami bisa mengambil sesuai selera.

Ini nih foto es jeruk kelapa mudanya…..

  • es-jeruk-kelapa1
  • Setelah menyeruput es jeruk kelapa muda sambil jeprat-jepret berfoto ria, akhirnya si ikan patin bakar bambu (Rp 99.000) tersaji di meja. Tampilannya lumayan menggoda, ikannya ‘ngumpet’ di bumbu merah yang berlimpah. Hmmmmmmm kayanya enak nih. Beberapa menit kemudian sup ikan (Rp 117.000) dan sayur asem (Rp 10.000) juga tersaji. Daun kemangi, tomat, dan cabe rawit tampak segar dan cantik menghiasi sup ikan gurame itu.

    Ini nih foto ikan bakar bambu

    ikan-patin1

    Tanpa menunggu lama, kami segera melahap menu-menu tersebut. Daging ikannya tebal. Waktu disuapkan ke mulut bersama nasi (Rp 6.000), lalapan, dan sambal mangga, hmmm…serasi banget. Nyam..nyam…nyammm…..jossss tenan.

    Sesekali tanganku menyendok sup ikan gurame di mangkuk. Walaupun si ikan bakar enak, menurutku yang juara justru sup ikannya. Cita rasa supnya begitu ringan dan segar. Tekstur ikannya lembut, berpadu apik dengan kemangi, tomat, dan cabai rawit. Si sayur asem nyaris tidak dijamah, karena kalah pamor dengan sup dan ikan bakar.

    sop ikan

    Ngga sia-sia kami datang ke pondok ikan ini. Kapan-kapan pengen datang lagi ke sini.

    Info aja, harga ikan patin bakar bambu dan sup gurame disesuaikan dengan berat ikan. Makin berat ya makin mahal :)

     
    0

    Selamat Jalan Os!

    Posted by fransiska arie on Jun 28, 2011 in Uncategorized
    oscar

    oscar

    Hal yang kami takutkan akhirnya benar-benar terjadi, Oscar mati. Ini berarti kami tidak akan melihat lagi si anjing tua ini lompat-lompat menyambut tamu, toel-toel kaki minta dielus, garuk-garuk pintu mau pipis, dan lompat-lompat nagih jatah bakso.

    Sore itu, 21 Juni, jam 16.30, aku lagi asyik ngobrolin Oscar bersama bosku. Aku cerita klo hari Minggu kemarin, Oos lagi makan trus kejungkal, kepalanya nyusruk ke piring makan. Sepertinya kakinya udah tidak kuat. Kakinya gemetaran kalau jalan, kerjaannya tidur terus. Bahkan si Oscar mulai ngompol. Jadi, tubuh Oscar harus dilap sama ibu pacarku supaya tidak pesing. Kalau sedang dilap, Oscar terlihat pasrah, matanya tertutup. Pokoknya ga tega lihatnya. Oscar yang ceria dan lincah lari ke sana-sini sekarang terkulai lemah.

    Waktu lagi asyik cerita, tiba-tiba sebuah sms masuk ke HP-ku.

    ‘Mba ikut berduka cita ya, Oscar mati, skrg lagi dikubur’ ternyata sms dari karyawan toko pacarku yang isinya mengabarkan kalau Oscar udah mati.

    Sontak, hatiku rasanya kosong. Tiba-tiba mataku panas dan berair. Mungkin orang yang belum pernah menyayangi binatang dengan sepenuh hati akan menganggap sikapku berlebihan. Tapi itu yang aku rasain saat itu.

    Hmmm aku sebenarnya sadar kalau cepat atau lambat Oscar bakal mati, apalagi melihat kondisinya yang terus memburuk dari hari ke hari. Tapi, tetap saja rasanya sedih mengetahui Oscar sudah mati.

    Waktu malam harinya pacarku menelepon, tangisku pun pecah. Katanya sehari sebelum Oscar mati, dokter hewan bilang umur Oscar ga akan panjang lagi, jadi disayang-sayang aja biar seneng. Esok harinya, Oscar sama sekali tidak mau makan. Bahkan saat disodori bakso, makanan kesukaannya,  Oscar juga tak mau makan. Seharian Oscar tiduran terus.

    Siang menjelang sore, Oscar seperti merintih-rintih kesakitan, Alpha-anjing yang lain- terlihat gelisah, muter-muter ga karuan. Mungkin dia tahu kalau ajal Oscar sudah dekat. Sore, sekitar jam 16.30, Oscar mati.  Mungkin saat aku ngobrolin Oscar, dia sedang kesakitan. Oscar si anjing tua yang manis dikubur di belakang rumah.

    Selamat jalan Os, terima kasih aku sudah boleh mengenalmu. Semoga kamu bahagia di tempatmu yang baru. Mata dan kakimu pasti udah ngga kerasa sakit lagi. Jadi kamu bisa maen, lari-larian, lompat-lompat bareng temen-temenmu, trus makan bakso sepuasnya.

    We’ll always love you, Os!

    Tags: , , , , , , ,

     
    3

    Kenangan Warung Tenda

    Posted by fransiska arie on Mei 24, 2011 in cerita seru

    Sewaktu masih di Yogyakarta (sekitar 3 tahun lalu) aku punya beberapa tempat favorit untuk makan, khususnya makan malam. Kebetulan di sekitar kosku, di daerah Babarsari banyak terdapat warung tenda yang berderet di sepanjang trotoar.

    Salah satu tempat favorit untuk makan yaitu warung makan Pak Dhok-Dhok yang menyediakan beberapa jenis makanan, yaitu capcay, nasi goreng, kwetiaw, bihun, dan fuyunghay. Warung makan ini terletak di belakang kosku, di dekat sawah-sawah Kledokan. Warungnya sangat sederhana, hanya ada 2 meja dengan 4 kursi panjang yang berhadapan. Sisi kiri kanan warung ditutupi dengan spanduk yang berfungsi untuk dinding. Waktu itu Pak Dhok-Dhok masih menggunakan petromax untuk penerangan. Kadang kalau lagi makan, petromax mati karena kehabisan bahan bakar. Alhasil warung jadi gelap gulita. Pegawai Pak Dhok-Dhok  dengan sigap mengisi bahan bakar lalu memompanya agar menyala lagi. Paling susah kalau lagi hujan deras, kita bakal terkena cipratan air hujan.

    Seminggu 2-3x aku menyambangi warung Pak Dhok-Dhok. Tiap kali makan di situ, aku selalu memesan capcay rebus. Pak Dhok-Dhok sampai hafal. Begitu melihat aku masuk warung, Beliau langsung menyambut dengan pertanyaan ‘Capcay rebus mba?’

    Sekarang kalau aku lagi maen ke Yogya, aku berusaha menyempatkan diri mampir makan di warung Pak Dhok-Dhok. Beliau akan menyambutku dengan ramah

    ‘Wah langganan lama, mari-mari. Capcay yo?’

    Biasanya Pak Dhok-Dhok akan menambah porsi capcay pesananku.

    ‘Buat langganan lama, kan sekarang jarang kepethuk’ gitu kata Pak Dhok-Dhok.

    Selain Pak Dhok-Dhok, warung makan yang sering aku kunjungi adalah warung tenda penyetan Handayani yang letaknya di dekat pertigaan Citrouli Babarsari. Dari segi menu tidak beda jauh dengan penyetan-penyetan lain, tapi yang istimewa adalah pelayanannya yang cepat. Begitu kita memilih lauk yang sudah digoreng setengah matang (menu favoritku ati ayam dan terong goreng), si penjual dengan cekatan akan menggorengnya. Tanpa banyak bicara, pegawai yang lain akan mengulek sambal di cobek-cobek yang disusun berjajar di meja. Kita bebas menentukan jumlah cabai rawit hijau untuk sambal kita.

    Tidak jauh dari warung tenda Handayani, ada warung tenda Kang Gareng. Warung ini menyediakan menu penyetan, ikan bakar, dan siomay. Ada beberapa varian sambal yang bisa kita pilih, seperti sambal bawang, sambal terasi, sambal kecap dan sambal tomat mentah. Rasa sambal bawangnya benar-benar bikin huah-huah, pedasnya mbudhekke kuping, alias puedes tenan. Kalau pesen sambal bawang, lebih baik kita minta ke si tukang ngulek sambel, bawangnya sedikit aja, soalnya kalau ngga dipesenin gitu, habis makan sambal, aroma mulut kita bisa bikin pingsan orang di samping kita, saking menyengatnya aroma bawang  (lebay :p ). Rasa siomay Kang Gareng cukup enak, cocok untuk camilan sore hari. Cuma yang bikin senewen, pelayanannya luaamaa. Pegawai-pegawainya tidak sesigap di Handayani.

    Dulu aku juga sering mengunjungi warung penyetan di belakang kosku, di dekat kantor Telkom arah Kledokan. Warung ini menyajikan beberapa menu penyetan standar seperti tahu, tempe, ayam, dan ikan. Menu yang sering kupesan di warung ini adalah ikan bandeng goreng dengan sambal teri. Kalau makan di warung ini, kita harus ekstra sabar, karena pelayanannya lama. Celakanya, penjualnya sering lupa pesanan kita, alhasil pembeli yang kelaparan pun harus rela ‘terlantar’. Yang bikin geli, penjualnya (kayanya satu keluarga ayah-ibu-anak) kadang berantem di depan pembeli. Mereka saling menyalahkan jika ada pembeli yang protes karena tak kunjung dilayani.

    Satu lagi warung makan yang dulu sering kusambangi, warung Pak Jok, di depan toko pernak-pernik Petraco. Menu andalannya adalah ikan bakar. Ikan ini disajikan bersama sambal, lalapan, dan rebusan daun singkong berbumbu seperti di rumah makan Padang.

    Yang pasti, rasa masakan di warung-warung yang sering aku kunjungi itu cukup maknyus dan tentunya harganya tidak bikin kantong bolong. Kapan-kapan kalau maen ke Yogya, pengen rasanya menyambangi warung makan-warung makan itu lagi sambil mengenang masa-masa kuliah dulu.

    Tags: , , , , , , , , , , , , ,

     
    7

    Tentang Aku dan Kakakku

    Posted by fransiska arie on Apr 12, 2011 in masa kecilku

    Aku terlahir sebagai anak bungsu dari 4 bersaudara. Semasa kecil, aku selalu ingin tahu dan ingin terlibat dengan kegiatan yang dilakukan kakak-kakakku. Aku terbiasa bermain dengan teman-teman kakakku, entah itu bermain lompat tali, kasti, ketapel, dan lain-lain. Dalam permainan, aku disebut ‘pupuk bawang’, karena tidak dianggap sebagai pemain sungguhan, atau sekadar penggembira, lebih tepatnya untuk menyenangkan hatiku, karena aku akan merengek terus jika tidak diajak bermain :p

    Salah satu kakak yang paling dekat denganku adalah kakak sulungku, Mba Epi. Saat aku TK, Mba Epi sudah SMP dan waktu Mba Epi masuk SMA, aku kelas 4 SD. Satu hal yang paling aku ingat, Mba Epi sering membelikan aku jepit rambut, tempat pensil, dan tentunya cokelat Silverqueen. Oh ya, pada waktu itu, makan cokelat Silverqueen adalah kemewahan tersendiri bagi kami. Cokelat itu akan kami nikmati dengan gigitan kecil-kecil supaya tidak lekas habis.

    Pernah waktu itu, sepulang sekolah, mba Epi memanggil kami adik-adiknya dengan membawa satu buah kotak di tangan. Ketika dibuka, mataku terbelalak, karena di dalamnya ada beberapa batang cokelat Silverqueen. Wowww!!! Aku senang bukan main karena itu artinya kami akan berpesta makan cokelat.

    Setelah aku mulai beranjak remaja, aku baru tahu kalau ternyata Mba Epi membeli hadiah-hadiah kecil itu dari hasil menyisihkan uang sakunya yang tidak seberapa.

    Meskipun Mba Epi begitu baik, aku sering menjadikannya ‘kambing hitam’. Misalnya, suatu sore Mba Epi sedang menyiram tanaman dengan selang. Aku merengek ingin ikut menyiram tanaman. Saat aku meraih selang, ayahku rupanya melihat.

    “Arie ayo Arie….ga usah ikut maen air! Nanti masuk angin!”

    “Wuaaaaa….wuaaaa..Buuuuuuuu………Mba Epi nakallllllllllllll!!!” teriakku memanggil ibu sambil menangis. Padahal jelas-jelas bukan Mba Epi yang nakal, hihihi…..

    ——————————

    Suatu sore, Mba Epi sedang mencoba naik sepeda baru, seperti biasa aku selalu ingin terlibat. Akhirnya aku duduk dibonceng Mba Epi. Dasar bocah ngglidhik (anak sok tau), bukannya duduk diam di boncengan, aku malah asyik mengamati roda sepeda yang berputar, lalu mencoba memasukkan kakiku ke dalam jari-jari roda.

    “Wuaaaaaaaa…wuaaaaaa…wuaaaaa…..” aku menangis sekeras-kerasnya saat kakiku terjepit jari-jari roda, mata kakiku berdarah. Tetangga-tetangga yang melihat kejadian itu segera menolongku. Mba Epi pun terlihat panik.

    Begitu sampai di rumah, aku mengadukan kejadian itu ke ibuku.

    “Bu…Mba Epi nakal…huhuhuhuhu, kakiku berdarah kejepit jari-jari roda sepeda”

    Walaupun aku sering menjadikan Mba Epi kambing hitam, Mba Epi tetap sayang padaku. Mba Epi mengajariku untuk menulis dengan tulisan rapi, membacakan cerita Bona dan Rong-rong, membuatkan teks pidato kalau aku akan ikut lomba (sehingga aku menjadi juara :)). Waktu kuliah dan akhirnya kerja pun Mba Epi terus menghujaniku dengan hadiah-hadiah, seperti boneka, buku-buku, kamus, baju, sepatu, tas, komputer, laptop. Seringkali teman-temanku iri saat melihatku ‘panen’ bingkisan dari Mba Epi.

    Hmm… kalau ingat kenakalan-kenakalanku di masa kecil, khususnya terhadap Mba Epi, aku menyesal. Apalagi jika mengingat kebaikannya yang segunung. Hiks….:(

    Sebentar lagi Mba Epi akan menikah, aku hanya bisa berdoa semoga Mba Epi selalu bahagia, sehat, dan diberkati Tuhan. Amin. Terima kasih Mba Epi.

    Tags: , , , , , ,

     
    2

    Cihuy…Aku Bisa Naik Sepeda

    Posted by fransiska arie on Jan 24, 2011 in masa kecil
    naik sepeda

    naik sepeda

    Salah satu kenangan masa kecil yang masih aku ingat sampai sekarang adalah saat aku belajar sepeda. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SD. Awalnya, seorang temanku pamer kalau dia sudah bisa naik sepeda. Tak mau kalah, aku juga bilang kalau sudah bisa naik sepeda. Memang beberapa hari sebelumnya aku sudah latihan sepeda dengan kakakku, walaupun belum lancar.

    Siang, sepulang sekolah kami ambil sepeda mini milik kakakku. Settingan sepeda itu masih terlalu tinggi buatku. Kebetulan di rumahku sedang kosong, ayah ibu belum pulang kerja, kakak-kakakku belum pulang sekolah. Mula-mula temanku memamerkan kebolehannya naik sepeda. Temanku naik sepeda sambil  megal-megol, pantatnya belum bisa duduk di sadel.

    Kini giliranku unjuk gigi. Beberapa kali aku sempat jatuh atau nubruk tembok, tapi aku terus mengayuh pedal sepeda, tentunya dengan pantat gebal-gebol.

    ‘Gimana kalau kita coba taruh pantat di sadel? Berani ngga?’ tanya temanku setelah kami mengitari halaman dengan sepeda untuk kesekian kali.

    ‘Memangnya kamu berani?’ aku tantang balik temanku.

    Temanku segera menaiki sepeda, setelah beberapa meter dia mencoba mendudukkan pantatnya di sadel, kakinya toal-toel karena sepeda itu juga masih terlalu tinggi untuknya. Dia langsung limbung.

    ‘Bruukk..prang’ pot besar di sudut halaman rumahku pecah diterjang sepeda.

    Temanku segera pulang ke rumahnya, sementara aku deg2an takut dimarahi ayahku. Untung waktu aku ceritakan kejadian itu, ayahku bisa memaklumi.

    Beberapa hari setelah kejadian itu, temanku kembali mengajakku sepedaan. Kali ini dia mengajakku bermain sepeda di jalan kecil depan rumahku. Kembali kusambut ajakannya.

    Kukayuh sepeda sekencang-kencangnya, pas turunan aku tetap mengayuh sepedaku.

    ‘Brakkk….’ sepedaku menubruk pagar tetangga. Kakiku berdarah, tapi malu mau menangis, soalnya ada temanku, hihihi… Dengan tertatih-tatih kutuntun sepeda pulang ke rumah.

    ———————————

    Beberapa minggu kemudian, sedang musim kampanye, entah kampanye apa aku tak peduli. Orang-orang sibuk pawai dengan sepeda motor, berisik banget. Aku tetap sibuk dengan sepeda mini.

    ‘Sepedaan di halaman saja, ga usah ke jalan,’ pesan ayahku berkali-kali sambil mengawasiku naik sepeda.

    Aku mondar-mandir dengan sepeda mengelilingi halaman, huh lama-lama kok membosankan ya, ga ada tantangan

    Begitu ayahku masuk ke rumah, kuarahkan sepedaku ke jalan.

    ‘ Gabruk…wuaaaaa…wuaaaaa…….’ aku menangis sekencang-kencangnya setelah sebuah sepeda motor yang membawa muatan ayam menubrukku. Kepalaku membentur jalan.

    Ayahku dan tetangga kiri kanan segera berlari mengerubungiku. Berkali-kali si pengendara motor meminta maaf kepada ayahku.

    ‘Maaf Pak, lebih baik kita bawa ke rumah sakit, takutnya kepalanya kenapa-napa soalnya membentur jalan,’ kata si penabrakku.

    ‘Huaaaaa…huaaaaaa….ga mau,’ tangisku makin keras mendengar kata ‘rumah sakit’.

    ‘Udah gapapa Pak, emang dasarnya anaknya yang bandel, udah diingetin jangan maen ke jalan tetep nekat,’ kata ayahku.

    ‘Hua….hua…….hua…….’

    Ayahku menuntunku pulang ke rumah.

    Masih sambil menangis, aku mencari ibuku, ingin mengadu dan berharap bakal dibujuk-bujuk. Huh ternyata ibuku malah pura-pura tidur, kakak perempuanku juga. Dongkol banget rasanya.

    ‘Huh ngga ada yang kasihan sama aku, ga ada yang sayang sama aku,’ rutukku dalam hati.

    Setelah insiden itu, aku sempat takut naik sepeda selama beberapa lama. Namun, untung kakak laki-lakiku membujukku untuk kembali belajar naik sepeda.

    Awalnya trauma, tapi lama-lama mulai terbiasa lagi.

    ‘Brukkkk…..’ aku kembali jatuh, kali ini terpeleset kotoran ayam di halaman, hihihi….

    ‘Gapapa, pasti habis jatuh kamu bakal lancar naik sepeda. Aku dulu juga habis jatuh trus lancar,’ kata kakakku menyemangati.

    Eh benar juga kata kakakku, aku semakin lancar naik sepeda, meliuk-liuk. Bahkan malam hari pun aku masih sepedaan di dalam rumah bersama kakakku, menirukan suara orang pawai motor berkampanye.

    ‘Tettteeeettt…mbem mbem…tet tet tet mbemmmm..mbemmm….’ seru kami, tanpa mempedulikan suara ibuku yang teriak-teriak meminta kami berhenti karena sudah malam.

    Tags: , , , , , , , , , ,

     
    4

    Oscar, We Love You!

    Posted by fransiska arie on Jan 12, 2011 in Uncategorized
    oscar

    oscar

    Aku bukan pencinta binatang, bahkan cenderung risih kalau ada binatang deket-deket aku. Tapi, ngga tau kenapa sejak ketemu Oscar, si anjing pikun, aku jadi mulai menyukai binatang, terutama anjing. Perkenalanku dengan Oscar dimulai saat pertama kali aku berkunjung ke rumah pacar, 2 tahun lalu.

    Begitu melihat tuannya datang, si Oscar langsung lari kencang dan menubruk tuannya. Sepertinya dia kangen dengan tuannya. Maklum sudah lama ngga ketemu (tuannya kuliah di Yogya). Selama beberapa menit, Oscar bertingkah bak anjing gila, lompat sana lompat sini dengan ekor mengibas-ibas kencang.

    ‘Ih ni anjing gila kali ya, sampai segitunya,’ pikirku waktu itu.

    Setelah menumpahkan kerinduan pada tuannya, si Oscar mulai mendekati aku dan mengendus-endus. Tentu saja kelakuan Oscar ini bikin aku risih. Kuusir si Oscar. Kata pacarku sih, si Oscar cuma pengen kenalan.

    Selama  beberapa hari, Oscar mencoba mendekatiku, selalu kuhalau. Tapi dasar anjing ngeyel, dia nekat duduk di dekat kakiku, dan mulai menggaruk-garuk kakiku.

    ‘Ih apaan sih, hush…hush..’

    Tapi si Oscar ngga mau pergi dan tetap toel-toel kakiku. Olala…ternyata itu tanda kalau Oscar minta dielus-elus. Dengan setengah hati kuelus-elus Oscar dengan kakiku.

    Orang yang paling disayang Oscar di rumah itu adalah ibu pacarku, kemana-mana selalu diikuti, bahkan waktu mandi, Oscar setia menunggu di depan pintu kamar mandi. Sampai-sampai kita menyebut Oscar si Buntut karena selalu mengekor kemana-mana.

    Oscar akan duduk atau tiduran dengan muka sedih kalau ditinggal pergi tuan kesayangannya. Pernah waktu itu ditinggal pergi 2 minggu ke Yogya, Oscar ngambek ngga mau makan. Begitu tuan kesayangan datang, dia melompat-lompat dengan girang sambil melolong, kalau bisa nyanyi mungkin Oscar bakal nyanyi. hihihi…

    ——————————————————————-

    Setelah kedatanganku yang kesekian kali, Oscar mulai menyambut kedatanganku. Setiap kali aku datang, Oscar mengibas-ibaskan ekornya dan mengendus-endusku sambil sesekali melompat-lompat. Awalnya sih risih, tapi lama kelamaan aku menikmati sambutan dari Oscar. Bahkan kalau aku datang, tapi Oscar tidak menyambutku, aku memanggil ‘memaksa’ dia untuk menyambutku, hihihii…

    Urusan makan, Oos pilih-pilih. Oos ga doyan makanan anjing. Makanan favorit Oos adalah bakso, huh…saingan ma aku. Kalau aku lagi makan bakso, dia akan duduk di deket kakiku, sambil toel-toel kaki. Alhasil 1 butir bakso akan jadi ’setoran wajib’ buat Oscar. Selain bakso, Oscar juga suka buah-buahan yang asam-asam manis (hihhh….lagi-lagi sainganku), seperti jeruk dan rambutan. Udah gitu kalau makan buah-buahan itu cepet banget, kaya ngga dikunyah. Kalau dikasih terus-terusan, bisa-bisa Oos makan lebih banyak dari kita. Habis makan, biasanya Oscar akan guling-guling kesenangan.

    Hmm…tapi sekarang si kakek, begitu aku memanggilnya, sudah semakin renta. Umurnya sudah 16 tahun, berarti sekitar 112 tahun kalo dikonversikan ke usia manusia (konon katanya 1 tahunnya usia anjing sama dengan 7 tahun usia manusia). Si kakek sudah kehilangan penglihatan dan penciumannya, matanya mulai katarak.

    Aku sering sedih kalo nglihat kakek nubruk tembok pas lagi jalan. Sambutan kakek klo ada yang datang pun tak seheboh dulu, paling cuma kibas-kibas ekor beberapa saat. Untuk mengenali orang di dekatnya, kakek harus menumbukkan hidung ke badan orang itu dan ‘mikir’ beberapa saat, baru dia kenal siapa yg di dekatnya.

    Akhir-akhir ini kakek juga mulai ngompol. Biasanya waktu masih lincah, kakek akan garuk-garuk pintu sambil menyalak minta dibukakan pintu, lalu dia keluar kencing. Sekarang si kakek sepertinya mulai pikun, setelah garuk-garuk pintu, dia keluar tapi ngga kencing, begitu masuk ke rumah, eh dia kencing.

    Aku berharap semoga Oos masih diberi umur panjang. Kadang aku berkhayal Oscar kembali berusia 1 atau 2 tahun, jadi aku masih bisa mengenal Oos lebih lama. We love u Oscar…..

    Tags: , , , ,

     
    1

    Jalan-jalan

    Posted by fransiska arie on Des 2, 2010 in melancong yuk

    Setelah sekian lama aku mendamba (halah malah jadi kaya lirik lagu dangdut :p), akhirnya kesampaian juga jalan-jalan ke Taman Safari. Horeeee……hihihi..norak ya. Beberapa hari sebelum hari H (kaya lebaran aja), aku sibuk browsing info tentang Taman Safari. Berkali-kali aku sms ke pacar buat mastiin bahwa kami bakal ke Taman Safari.

    Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang..syalalala….pagi-pagi benar aku sudah bangun, bikin sarapan, trus mandi. Jam 8 kami pun berangkat ke Taman Safari. Aku pikir kami bakal kepagian sampai di sana. Tapi ternyata sudah banyak mobil yang antre masuk. Kebetulan ada diskon khusus untuk pemegang kartu BNI. Cihuyyy dapet diskon 15 %, lumayan deh, bisa lebih irit.

    Kami berkeliling melihat aneka satwa. Tak henti-hentinya aku jepretkan kamera ke arah hewan-hewan yang berkeliaran di dekatku. Pantat kuda nil pun aku jepret, hihihii….Waktu ada zebra melintas di deketku, aku buka kaca mobil lalu kuusap-usap kepalanya. Beberapa ekor singa tampak bersantai di batang pohon tumbang.

    halo zebra

    halo zebra

    Setelah puas berkeliling melihat aneka satwa, kami melihat pertunjukan gajah. Inti pertunjukan ini adalah supaya kita tidak mengganggu habitat gajah. Lumayan juga, jayus-jayus lucu dan ada sisi edukatifnya. Dalam pertunjukan ini, gajah-gajah pamer kebolehan melukis di kaos. Di puncak pertunjukan, seorang penonton diundang naik ke atas panggung untuk terlibat dalam atraksi gajah. Si penonton diminta tiduran telungkup di matras, lalu seekor gajah jongkok di atasnya.

    atraksi gajah

    atraksi gajah

    Setelah menonton pertunjukan gajah, kami naik kereta mini (eh itu sebutannya kereta atau bus ya :p) ke air terjun. Kami harus berjalan sekitar 500 m untuk sampai ke lokasi air terjun. Tidak banyak pengunjung yang menyambangi air terjun, entah karena tidak tertarik atau enggan berjalan menuju lokasi. Air terjunnya sih tidak terlalu istimewa.

    Selanjutnya kami melihat pinguin (ini kali pertama aku melihat pinguin secara langsung, hihihi). Setelah itu kami menonton pertunjukan koboi. Pertunjukan ini diwarnai dengan aksi perkelahian antara bandit dengan para koboi. Efek ledakan terjadi di mana-mana. Para koboi naik kuda dengan gagah. Kehadiran sejumlah binatang seperti anjing, ayam, kambing, tikus membuat pertunjukan semarak. Seru dan konyol. Penonton di tribun depan mendapat kejutan berupa semprotan air.

    aksi koboi

    aksi koboi

    Satu lagi pertunjukan yang sayang dilewatkan adalah pertunjukan singa dan macan. Ada kejadian lucu saat pertunjukan akan berlangsung. Seekor singa ngambek. Si singa ngga mau gerak, ngotot duduk di atas meja. Pawang berusaha membujuknya turun dari meja, pantat si singa disodok, diungkit, eh si singa tetap ngeyel. Wealahhh…..

    Tiba-tiba seorang pawang lain masuk ke arena. Begitu melihat si pawang yang berkepala botak masuk, si singa langsung lompat turun, lari sembunyi di belakang punggung singa lainnya dengan ekspresi ketakutan. Hahaha…badannya doang yang gede, ternyata nyalinya kecil. Giliran para macan beraksi. Si macan menampilkan atraksi memanjat pohon, minum susu, lompat meja, dll.

    atraksi macan

    atraksi macan

    Hmmm ngga sia2 jalan2 ke Taman Safari, banyak hiburan yang didapat. Selain itu, yang patut diacungi jempol, selain menyajikan hiburan, di setiap pertunjukan juga diselipkan informasi yang bersifat edukatif. Misalnya, asal satwa, jenis makanan, perkembangbiakan satwa, dll.

    orang utan jalan2

    orang utan jalan2

    Tags: , , , , , , , , ,

    Copyright © 2008-2012 NGALOR NGIDUL All rights reserved.
    Desk Mess Mirrored v1.5.1 theme from BuyNowShop.com.