Bikers ‘Edan’

24 Jan 2014

Kemarin, waktu berangkat kerja, seperti biasa aku melewati jalan Tole Iskandar, Depok. Gerimis yang mengguyur, padatnya kendaraan, ditambah dengan kondisi jalanan yang wueleekkk (saking jeleknya), membuat arus lalu lintas lumayan tersendat.

Tiba-tiba, terdengar suara klakson yang dipencet dengan penuh semangat. Kulirik kaca spion, rupanya sumber keberisikan itu berasal dari belakangku, yakni seorang bapak-bapak pengendara motor yang tampak tidak sabaran. Padahal saat itu, kendaraan-kendaraan di depanku memang sedang berhenti, alhasil laju motorku pun terhenti. Satu-satunya pilihan untuk bisa terus jalan adalah naik ke trotoar di sisi kiriku.

“Woii…maju, hoooo cewek naik motor!” teriak si bikers dengan galak dan terkesan merendahkan. Dari gerak-geriknya, dia memintaku untuk naik ke trotoar. Memang posisi trotoar di sisiku lebih rendah, sehingga motor bisa naik dengan mudah.

Dengan memasang muka judes, aku pun menoleh.

“Itu trotoar dan saya tidak akan naik!” sahutku tak kalah galak, lalu kembali menghadap ke depan dengan santai. Kulihat dari kaca spion, si bapak tampak kesal. Bodo, biarin saja, karena buatku, bukan masalah nyali—berani atau tidak–menerobos trotoar, tapi soal menghargai pengguna jalan yang lain. Siapa sih kita, sampai minta kepentingan kita diutamakan, dan orang lain diminta mengalah. Buru-buru sih buru-buru, tapi emangnya yang lain juga lagi ngga buru-buru?

Itu adalah salah satu perilaku bikers yang membuatku gemes, yakni suka menerobos trotoar. Hihhh pengen nggetok pake ulekan rasanya. Sebagai bikers, aku berusaha untuk tertib. Namun, kadangkala sikap ini mendapat tentangan dari pengguna jalan yang lain. Contoh nyata lainnya adalah ketika di lampu merah. Aku berusaha berhenti di belakang garis zebra cross. Namun, yang terjadi justru diklaksoni atau diteriaki disuruh maju. Lampu hijau belum menyala, eh udah tan tin tan tin ngga sabar pengen segera tancap gas.

“Wealah kepriben iki son, edan. Wong urip di kota kok kaya di hutan, ga kenal aturan,” batinku. Gimana mau tertib kalau kaya gini kelakuan pengguna jalan.

‘Kegilaan’ yang lain terjadi ketika ada orang yang sedang menyeberang di zebra cross. Bukannya berhenti dan memberi kesempatan mereka menyeberang, eh malah diklaksoni. Padahal kalau dipikir-pikir, cuma berapa menit sih nunggu orang nyeberang.

Sepertinya kita, para pengguna jalan, harus introspeksi diri. Berkendara itu bukan cuma soal nyali-berani ngebut- tapi juga soal kesantunan berkendara. Kita mesti belajar untuk tidak egois dan mau menghormati pengguna jalan yang lain. Ingat, bahwa yang menggunakan jalan bukan cuma kita, tapi ada yang lain, termasuk pejalan kaki.


TAGS bikers trotoar pengendara motor jalan tole iskandar macet lalu lintas ngebut klakson motor kendaraan zebra cross depok jalan rusak


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post