Ngidam

6 Mar 2015

 

hamil (swparenting)

hamil (swparenting)

Sepertinya ngidam dan hamil adalah 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Selayaknya wanita hamil lainnya, aku juga mengalami masa-masa ngidam alias menginginkan suatu makanan tertentu. Ngga tahu sih, itu beneran keinginan dedek di perut atau semata-mata keinginanku sendiri. Yang jelas, rasanya pengen banget. Untungnya masih dalam taraf wajar alias tidak yang aneh-aneh. Ada beberapa jenis makanan yang membuat aku benar-benar ngiler dan seakan-akan harus aku santap. 1. Jambu air Pada dasarnya, walaupun sedang tidak hamil, aku adalah penggila buah. Semua buah aku doyan. Nah, kali ini waktu lagi hamil, aku pengen banget makan jambu air. Membayangkan buah jambu berwarna merah atau hijau kemerah-merahan membuat aku menelan ludah. Kayanya seger banget kalau makan buah yang satu ini. Tapi kok ya kebetulan lagi ngga ada yang jual jambu air. Di tukang rujak yang biasanya ada, ternyata lagi kosong. Di supermarket juga ngga nemu. Misua juga udah muter-muter nyari di tukang buah, hasilnya nihil. Duhduhduh….. Suatu hari misua pergi ke Bogor, perginya lumayan lama. Pulang-pulang liat istrinya manyun-manyun malah cengar-cengir, duh tambah kesel rasanya. “Siapa itu yang manyun-manyun?” sapa misua setengah meledek. “Mbuhhhh, lama banget sih perginya,” semburku dengan kesal. “Kalau dibawain ini, masih manyun juga ngga?” goda misua sambil mengangsurkan bungkusan plastik. “Apaan tuh?” sahutku belum mau menerima bungkusan itu. “Nihhhh……” kata misua seraya membuka isi bungkusan. Wow….ternyata isinya jambu air. Warnanya merah-merah dan besar. Rasa kesal hilang berganti rasa senang. Tanpa babibu..langsung kucuci dan kulahap buah-buah itu dengan cocolan garam dan cabai. Enakkkkk… Rupanya misua lama di Bogor karena sekalian muter-muter nyari penjual jambu air. Misua nyoba nyari di Pasar Warung Jambu karena dia pikir, siapa tahu namanya aja Warung Jambu, masak iya ngga ada yang jualan jambu. Dan ternyata, memang ada yang jual jambu air di situ. Hihihi…makasih Hunny…. 2. Krecek Selama ini aku kurang suka krecek. Salah satu alasannya mungkin karena selama tinggal di asrama semasa SMA, sering banget makan menu yang satu ini. Jadinya mblenek alias bosen banget dengan krecek. Tapi, ngga tahu kenapa, tiba-tiba pengen banget makan krecek. Mbayangin saja sudah bikin air liurku hampir menitik (hiii…). Untung bapak mertua dengan sigap membuatkan krecek untukku. 3. Sayur nangka Awal-awal kehamilan, aku juga jadi tergila-gila dengan sayur nangka. Entah mau dimasak gudeg atau lodeh, aku doyan banget. Sampai puncaknya, siang-siang, aku liat gambar sayur nangka di internet, warnanya merah, keliatan pedas dan menggudah selera makan. Rasanya pengennnn banget. Alhasil, misua pergi ke RM Padang membeli sayur nangka khusus untuk istrinya. Benar saja, begitu sayur nangka sudah di depan mata, langsung aku lahap dengan penuh selera. Dasar rakus, sayur nangka itu tidak sekadar aku makan sebagai pendamping nasi, tapi juga aku gadoin. Beberapa saat kemudian, aku memetik ‘buah kerakusanku’, air ludah rasanya keluar terus. Aku coba minum air putih sebanyak-banyaknya, makan buah, minum susu, pokoknya berbagai macam cara aku coba untuk menormalkan air liurku. Aku coba menebak-nebak kenapa air liurku jadi banyak setelah makan sayur gulai nangka. Kemungkinan karena kandungan vetsin dalam sayur itu terlalu banyak. Padahal selama ini, kalau masak, aku selalu menghindari penggunaan vetsin. Mungkin ini yang namanya mabok vetsin. Penyebab lainnya mungkin juga karena asam lambungku naik gegara dipicu rasa pedas dan santan gulai nangka. Kapok aku! Selain ngidam, selama trimester pertama, aku juga menjadi lebih sensitif pada aroma. Padahal setiap hari aku harus memasak. Aku paling ngga tahan mencium bau minyak panas, gorengan, dan uap kaldu. Beuhhh…rasanya mual. Jadi, untuk beberapa saat, urusan goreng-menggoreng aku serahin ke misua. Aku yang menyiapkan bumbu dan bahan, dia yang mengeksekusi. Sementara kalau lagi masak sop atau masakan yang membutuhkan kaldu, aku harus tahan nafas biar ngga eneg. Beruntung selama trimester pertama, aku hanya mengalami masa eneg dan mual tidak sampai muntah. Trik-ku kalau mau muntah, aku diam dulu, menenangkan diri, tarik nafas dalam-dalam, lalu menghitung pelan-pelan, dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Selama trimester pertama, aku jadi kurang berselera makan nasi. Sebagai alternatif, aku perbanyak konsumsi sumber karbohidrat lainnya, seperti lontong, lemper, bacang, mie telur (bukan mie instan). Aku juga memperbanyak konsumsi sayuran, buah, minyak ikan, dan madu. Vitamin dari dokter juga rutin aku minum. Aku berusaha untuk tidak melakukan aktivitas berat seperti angkat-angkat barang, lari-lari, naik-naik kursi ambil barang di atas. Aku berharap, semoga kehamilanku ini lancar dan dedek bisa lahir dengan sehat dan selamat. Amin…


TAGS dokter hamil ngidam trimester trimester pertama mual eneg muntah


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post