Cermat Membeli Obat

13 Jul 2015

Pulang kontrol dari RSIA Melania, dr Haryanto meresepkan Natavit (suplemen untuk ibu hamil yang mengandung AA, DHA, dan asam folat) yang bisa ditebus di apotek kalau vitamin sebelumnya sudah habis. Beberapa hari kemudian, aku minta tolong Lius, anaknya Mba Nani–mba yang mbantuin di rumah– untuk menebus resep di apotek. Waktu Lius pulang dari apotek, aku sedang pergi, jadi obat baru aku cek keesokan harinya.

Sekilas melihat kemasan Natavit yang dibeli Lius, rasanya janggal. Biasanya Natavit yang aku beli bentuknya kapsul lunak yang dikemas dalam botol, tapi kali ini kok bentuknya tablet dalam kemasan strip/blister (aku ngga begitu paham nama kemasannya). Hmm….apa ini vitamin yang sama tapi dalam bentuk yang berbeda ya, batinku waktu itu. Penasaran, aku cermati obat itu. Lho, kok namanya Matovit bukan Natavit! Aku cermati lagi obat itu. Ternyata itu obat mata, bukan vitamin seperti yang tertulis dalam resep dari dokter.

Aku langsung laporan ke misua soal salah obat ini. Kebetulan papa mertua lagi bersama misua, jadi ikutan denger. Sontak papa mertua langsung ngomel-ngomel. 

“Sembarangan ngasih obat. Ngawur, udah jelas ada resepnya..blablablabla…”

“Udah Pa, nanti kami ke apoteknya, nuker obat. Obatnya belum diminum kok,” kataku mencoba menenangkan Papa.

Sesampainya di apotek, kami dilayani mba-mba yang mukanya kurang ramah (upss…ngga boleh ya menilai dari tampilan luar :D ).

“Cari apa?” tanya si Mba tanpa senyum.

“Mau nuker obat Mba,” jawabku sambil mengangsurkan bungkusan obat.

“Kenapa emangnya,” sahut si Mba masih dengan muka tanpa senyum.

“Ini obatnya keliru,” jawabku berusaha tetap sabar.

“Belinya kapan? Di resepnya Matovit obat mata kan?” kata si Mba sambil mengambil obat dari tanganku.

“Belinya kemarin. Bukan Matovit, tapi Natavit, suplemen buat ibu hamil,” tandasku.

Temannya yang mendengar, menghampiri kami

“Obatnya belum diminum kan?” tanya temannya.

“Belum,” ujarku.

“Resepnya dari mana ya?” tanya si Mba kurang ramah lagi.

“Dari RSIA Melania, dr Haryanto, SPOG,” tegasku.

Mereka beranjak ke bagian belakang apotek sambil berbicara pelan. Entah apa yang mereka bicarakan.

Beberapa menit kemudian….

“Ini obatnya ngga ada. Mau diambil aja uangnya atau mau ganti suplemen yang lain? Uangnya kemarin Rp 150 ribu ya? ” tanya si Mba tetap dengan muka tidak bersahabat. 

“Aduh Mba, mahal banget senyummu,” rutukku dalam hati.

“Kembali uang saja,” tukasku. 

Akhirnya si Mba mengembalikan uangku tanpa sepatah kata pun. 

Hmm…sepertinya si Mba belum pernah belajar mengucapkan kata maaf. Sabar…sabar….

Pelajaran yang dapat kupetik dari kejadian ini, lain kali harus lebih cermat saat membeli obat. Kalau bisa, menebus obat sendiri di apotek, tidak meminta tolong orang lain. Pastinya, sebelum meminum obat, harus benar-benar cermat memerhatikan informasi indikasi obat. Jangan sampai salah minum obat, karena bisa fatal akibatnya. 

 

 

 

 


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post